Nasional

Ancaman Nyata di Balik Gemerlap Industri Esports Anak

JAKARTA -- Gangguan tidur, tekanan mental, pelecehan daring, hingga eksploitasi ekonomi disebut menjadi risiko nyata yang dihadapi pemain muda esports. Hal tersebut diungkap dalam laporan Save the Children berjudul...

29 Oktober 2026, pukul 04:19 WIB · dibaca 0 kali

JAKARTA -- Gangguan tidur, tekanan mental, pelecehan daring, hingga eksploitasi ekonomi disebut menjadi risiko nyata yang dihadapi pemain muda esports. Hal tersebut diungkap dalam laporan Save the Children berjudul Protecting Child Rights in Esports yang diterbitkan pada Selasa (27/10/2026).

Laporan itu mendesak industri esports menempatkan hak-hak anak sebagaimana diatur dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Anak (UNCRC) di atas ambisi kompetitif. Menurut laporan tersebut, hingga 300 juta anak di seluruh dunia terlibat dalam esports dan berpotensi menghadapi berbagai risiko mulai dari gangguan tidur, masalah muskuloskeletal, seksisme, kecemasan, pelecehan daring, hingga depresi. Latihan intensif juga dapat mengurangi waktu anak untuk belajar, berkumpul bersama keluarga, dan berinteraksi dengan teman-teman.

Baca Juga

"Esports menawarkan peluang yang menarik bagi anak-anak, tetapi partisipasi di dalamnya tidak boleh mengorbankan hak, kesejahteraan, ataupun perkembangan mereka. Seiring pertumbuhan industri ini, anak harus diakui sebahai anak-anak yang harus dilindungi, bukan sebagai kompetitor yang dituntut untuk berprestasi," kata psikolog Save the Children sekaligus pakar gim, Theo Toresson, dilansir laman Euro News, Selasa (27/10/2027).

Toresson juga menyerukan keterlibatan anak dalam pengambilan keputusan. Hal ini penting untuk terciptanya lingkungan esports yang memungkinkan mereka berpartisipasi dengan aman, mengembangkan bakat, dan menikmati manfaat bermain gim tanpa terpapar bahaya.

Laporan Save The Children juga menyoroti belum adanya standar bersama mengenai durasi bermain dan metode latihan yang sehat bagi pemain esports anak. Duduk terlalu lama, kurangnya waktu istirahat, serta jadwal latihan yang mengganggu tidur, aktivitas fisik, dan pendidikan menjadi sejumlah persoalan yang perlu diperhatikan.

Jadwal bermain hingga larut malam juga berpotensi mengganggu tidur. Kondisì ini dapat memengaruhi kemampuan kognitif, pengaturan suasana hati, dan kesejahteraan pemain secara keseluruhan.

Seorang perwakilan federasi esports nasional yang identitasnya dirahasiakan dalam laporan tersebut mengatakan belum ada pedoman baku mengenai jam bermain dan metode latihan. "Kami memang membicarakan jeda dari layar, pola makan sehat, tidur, dan hidrasi. Namun, praktik-praktik tersebut kami susun sendiri berdasarkan temuan dari berbagai peneliti. Hingga saat ini, belum ada badan terpusat yang berupaya menyatukan semua hal tersebut," kata perwakilan itu.

Ketiadaan standar tersebut memunculkan pertanyaan mengenai siapa yang bertanggung jawab memastikan kegiatan esports tidak menghambat perkembangan fisik dan psikologis anak. Selain kesehatan fisik, tekanan psikologis dan toksisitas di dunia maya menjadi ancaman bagi pemain esports muda. Laporan tersebut menyebut tuntutan kompetisi yang tinggi, ditambah lingkungan daring yang toksik, dapat menimbulkan tantangan kesehatan mental yang signifikan.

"Stres, kecemasan, dan depresi dapat diperburuk oleh persaingan ketat serta terbatasnya akses terhadap dukungan yang memadai. Seksisme dan pelecehan daring juga dapat memperburuk kondisi tersebut. Risiko itu muncul ketika pemain berinteraksi dengan penonton melalui obrolan dalam gim, komunitas Discord, dan siaran langsung di media sosial," demikian laporan Save The Children.

 

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait