Nasional

Asap Karhutla Tingkatkan Risiko Bayi Lahir Prematur

JAKARTA -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia menyebabkan degradasi kualitas udara dalam skala yang luas. Di balik kabut asap yang tebal, terdapat ancaman...

28 Oktober 2026, pukul 02:18 WIB · dibaca 0 kali

JAKARTA -- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia menyebabkan degradasi kualitas udara dalam skala yang luas. Di balik kabut asap yang tebal, terdapat ancaman kesehatan yang kerap luput dari perhatian publik terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil.

Pakar keperawatan maternitas Universitas Indonesia, Suryane Sulistiana Susanti, mengatakan paparan partikel asap berpotensi memengaruhi tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan. Asap karhutla tidak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan jangka pendek, namun juga mengandung partikel halus berukuran PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memengaruhi kesehatan ibu hamil.

Baca Juga

"Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan polusi udara perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan ibu dan dikaitkan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur serta berat badan lahir yang rendah," kata Lilis dalam keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (28/10/2026).

Besarnya risiko kesehatan akibat paparan asap karhutla dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari tingkat dan durasi paparan, kondisi kesehatan ibu, hingga berbagai faktor lingkungan lainnya. Paparan polusi udara selama kehamilan juga dapat memicu peradangan dan stres oksidatif. Kedua mekanisme tersebut berpotensi memengaruhi fungsi plasenta serta lingkungan tempat janin tumbuh dan berkembang.

Yuni Kartika berpose di depan rumahnya, sementara asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti lingkungan tempat tinggal mereka di Palangka Raya, Jumat (23/10/2026). - (REINA/AFP)

 

Selain itu, berbagai penelitian juga terus mempelajari kemungkinan dampak paparan lingkungan terhadap perkembangan anak melalui mekanisme epigenetik. Epigenetik merupakan perubahan dalam pengaturan aktivitas gen tanpa mengubah urutan DNA.

"Meski penelitian di bidang ini terus berkembang, temuan-temuan tersebut tidak berarti setiap ibu yang terpapar asap akan mengalami gangguan kehamilan atau bahwa penyakit tertentu pada masa dewasa pasti akan terjadi. Namun, berbagai bukti ilmiah menunjukkan perlunya upaya pencegahan dan perlindungan yang lebih baik bagi kelompok rentan," ujar Lilis.

Ia menyebut isu karhutla tidak dapat dipandang sebatas persoalan lingkungan. Imbasnya pada kesehatan ibu dan anak menjadikan karhutla sebagai tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Untuk mengurangi risiko tersebut, Lilis mendorong pemerintah daerah, puskesmas, tenaga kesehatan, serta kader Posyandu di wilayah rawan karhutla agar memperkuat edukasi dan kesiapsiagaan kesehatan ibu dan anak. Upaya tersebut meliputi pemantauan kualitas udara, identifikasi ibu hamil yang membutuhkan dukungan khusus, edukasi mengenai pengurangan paparan, hingga pencatatan riwayat paparan dan keluhan yang relevan dalam pelayanan antenatal. 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait