REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 tidak hanya menjadi titik balik dalam konflik Palestina-Israel, tetapi juga memperdalam krisis ideologi Zionisme.
Sejarawan profesor di Universitas Exeter, Inggris, Ilan Pappe menilai, Zionisme kini menghadapi tiga tantangan besar: perlawanan dan keteguhan rakyat Palestina, perpecahan internal Israel, serta merosotnya legitimasi di tingkat internasional.
Baca Juga- Saat Imam Al-Bukhari, Al-Maturidi, dan Al-Naqsyabandi ‘Menang’ Atas Uni Soviet
- Bagaimana China Manfaatkan Perang Iran dan Terkurasnya Kekuatan Militer Amerika Serikat?
- Benarkah Napoleon Muslim? Tesis Sejarawan Prancis Picu Perdebatan di Paris
Ketiga tantangan tersebut membuat masa depan Zionisme sebagai ideologi negara semakin tidak pasti.
Menurut Pappe, persoalan yang dihadapi Israel bukan semata-mata kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atau pemerintahannya, melainkan juga ideologi yang menjadi landasan pembentukan negara tersebut.
Dalam analisisnya mengenai arah Zionisme setelah Badai Al-Aqsa dikutip dari Aljazeera, Rabu (14/10/2026), Pappe yang merupakan salah satu tokoh penting gerakan Sejarawan Baru (New Historians) menggunakan konsep disonansi kognitif, yakni pertentangan antara keyakinan ideologis dan kenyataan di lapangan.
Menurut dia, ketika sebuah ideologi berhadapan dengan realitas yang tidak sesuai dengan asumsi dasarnya, ada dua pilihan: menyesuaikan ideologi dengan kenyataan atau menggunakan kekuatan untuk memaksakan kenyataan agar sesuai dengan ideologi.
Bagi Pappe, Zionisme kini berada di persimpangan tersebut. Realitas di Palestina historis menunjukkan bahwa ambisi membangun dan mempertahankan negara Yahudi dengan mengorbankan hak-hak rakyat Palestina terus menghadapi perlawanan, baik di dalam maupun di luar Israel.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika