Nasional

Bayu Skak Sisipkan Kritik Sosial Lewat Film Foufo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film komedi fiksi ilmiah Foufo tidak hanya mengeksplorasi budaya Madura. Menurut sutradara Bayu Skak, film tersebut juga memuat pesan sosial yang dekat dengan kehidupan banyak masyarakat di...

22 Juni 2026, pukul 09:28 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film komedi fiksi ilmiah Foufo tidak hanya mengeksplorasi budaya Madura. Menurut sutradara Bayu Skak, film tersebut juga memuat pesan sosial yang dekat dengan kehidupan banyak masyarakat di Indonesia.

Bayu mengatakan, meski secara garis besar film tersebut berkisah tentang alien yang melakukan pendaratan darurat di Madura, cerita yang diangkat jauh lebih dalam. Salah satunya mengenai kehangatan dan dinamika keluarga.

Baca Juga

"Emang secara garis besarnya ini tuh ada alien yang crashlanding di Madura, tapi sebetulnya intisari film ini lebih jauh lebih dari itu. Film juga kehangatan keluarga dan rasa sayang kepada ibu," kata Bayu saat diwawancara di kantor Republika, Jumat (19/6/2026).

Selain itu, Foufo juga menyisipkan kritik sosial terkait kesejahteraan guru honorer di Indonesia. Melalui karakter Ipul (Fuad Sasmita) yang merupakan adik dari karakter Muslim (Tretan Muslim), film ini mengulik bagaimana kehidupan guru honorer yang jauh dari kata sejahtera.

Sutradara sekaligus komedian Bayu Skak saat media visit ke Republika, Jakarta, Jumat (19/6/2026). Kunjungan tersebut dalam rangka promosi film berjudul Foufo yang dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 9 Juli 2026. - (Republika/Prayogi)

 

"Banyak sekali karakter di film kami itu yang mencerminkan realitas sosial. Misalnya karakter pul itu ceritanya jadi guru honorer, yang gajinya Rp300 ribu per bulan, pulang ngajar harus kerja lagi. Dan itu kan memang realita ya, makanya kami coba angkat itu," kata Bayu.

Bayu juga menceritakan proses panjang di balik penciptaan karakter alien dalam film tersebut. Pada tahap awal, tim produksi sempat merencanakan pembuatan alien menggunakan teknologi Computer Generated Imagery (CGI).

Akan tetapi, karena proses pengerjaannya yang membutuhkan waktu hingga satu setengah tahun, ia akhirnya mencari alternatif lain. Setelah melalui berbagai diskusi, mereka memutuskan menggunakan pendekatan animasi.

"Awalnya mau digarap CGI, tapi prosesnya bisa 1,5 tahun. Kalau seperti itu terlalu lama, karena harapannya film ini bisa segera dinikmati. Akhirnya kami berdiskusi, dan akhirnya dikerjakan dalam bentuk animasi," kata Bayu.

 

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait