REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah pengungsi yang terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur, mulai kembali ke rumahnya masing-masing pada hari ke-12 setelah terjadi bencana, tepatnya pada Rabu (26/8/2026). Pasalnya, gempa susulan yang terjadi di wilayah itu tidak lagi dirasakan oleh masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan saat ini terdapat ribuan pengungsi yang telah kembali ke rumahnya. Mayoritas pengungsi yang kembali ke rumahnya itu berasal dari Kabupaten Sikka.
Baca Juga- Tinjau Penanganan Gempa Presiden Prabowo Tiba di NTT
- Prabowo Kunjungi Korban Gempa NTT, Peresmian LRT Jakarta Ditunda
- Pulihkan Layanan Adminduk Pascagempa, Dirjen Dukcapil Terjunkan Tim ke Ngada
"Saat ini (pengungsi) ada berkurang 6.094 jiwa, terutama ini berasal dari Sikka," kata dia saat konferensi pers secara daring, Rabu sore.
Menurut Berton, kepulangan pengungsi itu dilakukan secara mandiri tanpa adanya paksaan dari petugas di lapangan. Para pengungsi itu disebut telah memastikan bahwa rumahnya masih kuat.
Ia menambahkan, BNPB disebut tetap memberikan perlengkapan atau makanan kepada pengungsi yang kembali ke rumahnya. Dengan begitu, mereka tidak mengalami kesulitan logistik saat kembali ke rumahnya.
Sementara itu, menurut dia, gempa bumi susulan yang terjadi tidak lagi sebesar sebelumnya. "Sekarang itu kami di Labuan Bajo tidak lagi merasakan, tidak pernah beberapa hari merasakan kegempaan lagi," kata dia.
Meski demikian, di beberapa wilayah jumlah pengungsi mengalami penambahan. BNPB mencatat, saat ini total masih ada 179.037 oramg yang mengungsi akibat gempa bumi M 7,7 yang mengguncang wilayah itu pada Sabtu (15/8/2026).
Berton menyebutkan, hingga saat ini sudah terjadi gempa susulan sebanyak 7.492 kali dengan kekuatan terbesar M 6,2 dan terkecil M 1,0. Dari ribuan gempa susulan itu, terdapat sebanyak 143 kali gempa yang dirasakan masyarakat.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa susulan itu berpotensi terjadi hingga 4 pekan setelah gempa utama. Namun, kekuatan gempa susulan diprediksi akan semakin kecil ke depannya.
"Semoga nanti gempa-gempa susulan ini semakin kecil, semakin dia tidak dirasakan, dan warga juga sudah akan mulai merasakan lebih tenang dan tidak menimbulkan kepanikan lagi," kata dia.
Korban Masih Bertambah
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika