REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS— Pertemuan yang mempertemukan delegasi Suriah tingkat tinggi yang dipimpin Menteri Luar Negeri Asaad al-Syaibani dengan delegasi Israel, melalui mediasi Amerika Serikat di Yordania, bukanlah pertemuan pertama dalam sejarah kontak kedua pihak.
Namun, pertemuan tersebut menjadi gambaran penting tentang besarnya perubahan dalam hubungan Suriah dan Israel.
Baca Juga- Hal yang Perlu Anda Ketahui tentang Lalai dan Penyebabnya yang Diperingatkan Alquran
- Apakah Embargo Ekonomi AS Atas Iran akan Berhasil? Ini Kata Para Analis
- Nafsu Sanksi Ekonomi Iran, Ancaman Krisis Justru Berbalik Menimpa AS secara Mengkhawatirkan
Komunikasi yang sebelumnya berlangsung melalui pesan-pesan tersirat kini mulai bergeser ke meja perundingan secara langsung.
Selama beberapa dekade, meskipun Israel menguasai Dataran Tinggi Golan milik Suriah, perbatasan kedua pihak relatif terkendali.
Garis perbatasan itu menjadi semacam tembok kokoh yang dibangun melalui kekuatan artileri dan tank, dan bertahan melewati puluhan tahun negosiasi rumit serta konfrontasi tidak langsung.
Namun, perubahan besar dalam situasi Suriah belakangan ini telah mengguncang hampir seluruh aturan permainan lama.
Babak baru pun dimulai, ditandai dengan perkembangan militer yang berlangsung cepat dan pertemuan keamanan yang sebelumnya nyaris tidak terbayangkan.
Sumber resmi Suriah menjelaskan bahwa pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya menurunkan eskalasi setelah serangkaian serangan Israel terhadap wilayah Suriah dan meningkatnya ketegangan di Suriah bagian selatan. Pertemuan itu juga diarahkan untuk mendukung stabilitas di Suriah dan kawasan.
Berikut perjalanan penting hubungan Suriah-Israel, sejak permusuhan terbuka pada masa awal hingga situasi saat ini yang mulai mencari jalan menuju de-eskalasi dan stabilitas, tanpa mengorbankan kepentingan masing-masing pihak, sebagaimana dilansir Aljazeera, Kamis (27/8/2026).
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika