JAKARTA -- Politisi Muslim Amerika Serikat (AS), Abdul El-Sayed, mencatat kemenangan bersejarah dalam pemilihan sela Kongres AS di Michigan, Selasa (3/11/2026), setelah menghadapi serangkaian tudingan mengenai dugaan keterkaitannya dengan Ikhwanul Muslimin atau Muslim Brotherhood. Kemenangan kandidat Partai Demokrat itu semakin menarik perhatian karena dua hari sebelum pemungutan suara, seorang rekan separtainya justru berbalik mendukung kandidat Partai Republik yang menjadi lawannya.
Associated Press (AP) dan Reuters pada Rabu (4/11/2026) memproyeksikan El-Sayed memenangkan kursi Senat AS dari Michigan setelah mengalahkan Mike Rogers, mantan anggota Kongres sekaligus mantan agen FBI yang mendapat dukungan Presiden Donald Trump. Hasil tersebut menjadikan El-Sayed sebagai Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Senat Amerika Serikat sepanjang sejarah negara itu.
Baca Juga- Profil Haley Stevens, Pro-Zionis yang Membelot Dukung Lawan El Sayed
- Berseteru soal Israel, Haley Stevens Membelot Dukung Lawan El-Sayed Jelang Pemilu AS
- Trump Terus Tuding El-Sayed Ikhwanul Muslimin Tanpa Bukti, Video Debatnya Ditonton 14 Juta Kali
Berdasarkan penghitungan sementara Associated Press yang ditampilkan Fox News hingga Rabu sore waktu AS, El-Sayed memperoleh sekitar 52,5 persen suara, sedangkan Rogers meraih 45,5 persen. Angka tersebut berasal dari penghitungan sekitar 98 persen suara dan belum merupakan hasil akhir yang disertifikasi otoritas pemilu Michigan.
Kemenangan El-Sayed mengakhiri persaingan politik yang berlangsung panas selama beberapa bulan. Selain menghadapi serangan mengenai identitas agama dan pandangan politiknya, politisi berusia 42 tahun tersebut juga harus berhadapan dengan perpecahan internal Partai Demokrat yang mencapai puncaknya menjelang pemungutan suara.
Dalam pidato kemenangan di Detroit, Rabu dini hari, El-Sayed secara terbuka menyinggung strategi kampanye lawannya yang dianggap menggunakan ketakutan terhadap identitas Muslim untuk memengaruhi pemilih.
"Kalian memilih kebencian, dan Michigan memilih harapan," kata El-Sayed, sebagaimana dikutip Reuters, Rabu (4/11/2026).
Pernyataan tersebut ditujukan kepada Rogers dan kubu politik yang menyerangnya sepanjang kampanye. El-Sayed menilai kemenangan itu menunjukkan bahwa masyarakat Michigan memberikan perhatian lebih besar terhadap kebutuhan ekonomi dan kehidupan sehari-hari dibandingkan tudingan mengenai agama yang tidak didukung bukti.
Trump Tuding El-Sayed Anggota Ikhwanul Muslimin
Tudingan terhadap El-Sayed mencapai salah satu puncaknya ketika Presiden Donald Trump berkampanye di Port Huron, Michigan, pada 25 Oktober 2026. Dalam kegiatan tersebut, Trump secara langsung mengaitkan kandidat Demokrat itu dengan Ikhwanul Muslimin dan menyebutnya sebagai seorang jihadis.
Trump menyatakan kehadirannya di Michigan bertujuan mencegah seseorang yang disebutnya sebagai anggota Ikhwanul Muslimin menjadi senator Amerika Serikat. Pernyataan itu menjadi bagian dari kampanye Partai Republik yang berulang kali mempertanyakan pandangan politik dan kesetiaan El-Sayed terhadap negaranya.
Mike Rogers juga menggunakan isu dugaan kedekatan El-Sayed dengan organisasi Islam tersebut dalam kampanyenya. Rogers menuduh lawannya memiliki pandangan yang berbahaya bagi keamanan nasional dan mempertanyakan sikapnya terhadap kelompok-kelompok yang dikategorikan ekstremis.
Namun, tudingan mengenai keanggotaan El-Sayed dalam Ikhwanul Muslimin tidak didukung bukti yang dapat diverifikasi. Reuters melaporkan bahwa El-Sayed telah membantah keterkaitan dengan organisasi tersebut, sedangkan sejumlah pemeriksa fakta menemukan klaim yang digunakan dalam kampanye tidak membuktikan adanya hubungan keanggotaan.
Lembaga pemeriksa fakta PolitiFact pada 27 Oktober 2026 memberikan penilaian Pants on Fire terhadap pernyataan Trump yang menyebut El-Sayed sebagai anggota Ikhwanul Muslimin sekaligus jihadis. Kategori tersebut digunakan PolitiFact untuk klaim yang dinilai keliru secara ekstrem.
PolitiFact menjelaskan bahwa El-Sayed tidak pernah menyerukan penggunaan kekerasan untuk memaksakan ajaran Islam dalam kehidupan politik Amerika Serikat. Ia juga tidak ditemukan pernah menjadi anggota Ikhwanul Muslimin dan telah menyatakan penolakannya terhadap organisasi tersebut.
Pemeriksaan tersebut melibatkan sejumlah akademisi yang mendalami sejarah Islam, gerakan politik Timur Tengah, dan hubungan agama dengan politik Amerika.
Salah satunya, profesor sejarah Universitas Michigan Juan Cole, menjelaskan bahwa sejumlah pandangan politik El-Sayed justru berbeda dari sikap yang lazim diasosiasikan dengan Ikhwanul Muslimin. Para akademisi yang diwawancarai PolitiFact juga menekankan pentingnya membedakan dukungan terhadap proses politik di Mesir dengan keanggotaan dalam suatu organisasi.
Surat Tahun 2012 Dijadikan Bahan Serangan Politik
Salah satu dasar yang digunakan kubu Republik untuk menyerang El-Sayed adalah dokumen politik yang ditandatanganinya pada November 2012. Dokumen itu berupa pernyataan bersama 46 warga Amerika keturunan Mesir mengenai perkembangan politik Mesir setelah revolusi yang menggulingkan Presiden Hosni Mubarak.
Pernyataan tersebut membahas pemerintahan Presiden Mohamed Morsi, tokoh yang memiliki hubungan politik dengan Ikhwanul Muslimin. Morsi ketika itu merupakan presiden pertama Mesir yang terpilih melalui pemilihan demokratis setelah perubahan pemerintahan pada 2011.
Dalam dokumen tersebut, para penandatangan memberikan dukungan terhadap sejumlah langkah politik Morsi dan menyerukan perubahan terhadap unsur-unsur institusi yang dianggap masih terkait pemerintahan sebelumnya. Surat tersebut juga memuat seruan untuk membersihkan unsur tertentu dalam media dan kepolisian, yang kemudian menjadi bahan kritik terhadap El-Sayed.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika