REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Data Sinergitama Jaya Tbk (ELIT) atau Elitery memutuskan tidak membagikan dividen dari laba tahun buku 2025. Perseroan memilih menahan laba untuk memperkuat pengembangan bisnis, khususnya pada layanan berbasis kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, serta ekspansi pasar ke kawasan Asia dan Eropa.
Keputusan tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar di Jakarta, Rabu (17/6/2026). Pemegang saham menyetujui penggunaan laba bersih untuk memperkuat fundamental bisnis dan mendukung strategi pertumbuhan jangka panjang perseroan.
Direktur Utama Elitery Kresna Adiprawira mengatakan dana hasil reinvestasi akan difokuskan untuk pengembangan teknologi, perluasan pasar internasional, serta penguatan layanan berbasis AI dan keamanan siber yang menjadi fokus utama perseroan ke depan.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, Elitery juga memperluas kehadirannya di Malaysia melalui Elitery Global Technology Sdn Bhd. Menurut Kresna, langkah itu menjadi fondasi awal bagi rencana ekspansi yang lebih luas ke sejumlah negara di kawasan Asia dan Eropa.
"Langkah ini menjadi fondasi awal bagi rencana ekspansi yang lebih luas ke berbagai negara di kawasan Asia dan Eropa, seiring meningkatnya kebutuhan layanan cloud, kecerdasan buatan (AI), dan keamanan siber di tingkat global," ujar Kresna.
Selain mendukung ekspansi, keputusan tidak membagikan dividen juga dilakukan untuk memperkuat bantalan likuiditas atau cash buffer di tengah ketidakpastian ekonomi global. Perseroan menilai langkah tersebut penting untuk menjaga fleksibilitas bisnis sekaligus memastikan keberlangsungan operasional dalam jangka panjang.
"Langkah strategis ini untuk mengamankan keberlangsungan operasional (going concern) dan menjaga fleksibilitas perseroan di masa depan," kata Kresna.
Ia menjelaskan prospek bisnis Elitery pada 2026 masih didorong oleh meningkatnya kebutuhan layanan keamanan informasi dan transformasi digital di berbagai sektor. Perseroan juga melihat potensi ekonomi digital Indonesia yang terus berkembang menjadi peluang besar untuk memperluas bisnis.
Untuk menangkap peluang tersebut, Elitery mempercepat pengembangan layanan berbasis AI melalui platform Elipedia dan Elitementor, serta memperkuat layanan keamanan siber yang bersifat proaktif.
Menurut Kresna, posisi Elitery saat ini semakin kuat karena menjadi satu-satunya mitra lokal di Indonesia yang mengantongi sertifikasi Google Cloud Managed Service Provider (MSP) dan Managed Security Services Provider (MSSP).
Selain itu, pada awal 2026 perseroan juga memperoleh AWS Migration Competency Designation yang menegaskan kapabilitas Elitery dalam layanan migrasi dan transformasi cloud berstandar global.
"Inovasi teknologi, terutama bidang cybersecurity dan AI, dan ekspansi regional ialah fokus utama kami di masa depan. Kami berkomitmen terus bertumbuh sebagai perusahaan teknologi Indonesia yang mampu bersaing di tingkat global, khususnya di kawasan Asia dan Eropa," ujar Kresna.
Dari sisi kinerja, Elitery mencatat laba bersih sebesar Rp33,72 miliar pada 2025 atau tumbuh 30,35 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan usaha mencapai Rp462,86 miliar dan laba kotor meningkat menjadi Rp124,33 miliar.
Perseroan juga mencatat penguatan struktur keuangan yang ditandai dengan penurunan total liabilitas sebesar 4,52 persen menjadi Rp138,65 miliar, sementara ekuitas tumbuh 17,84 persen menjadi Rp158,06 miliar.
Kresna menilai fundamental keuangan yang semakin solid memberikan ruang lebih besar bagi perseroan untuk melanjutkan strategi ekspansi, memperkuat inovasi layanan, dan meningkatkan daya saing sebagai perusahaan teknologi asal Indonesia di pasar global.
"Dengan fundamental keuangan yang semakin solid, Elitery berada pada posisi lebih kuat melanjutkan strategi ekspansi, memperkuat inovasi layanan, dan meningkatkan daya saing sebagai perusahaan teknologi Indonesia dengan standar layanan global," kata Kresna.
Ikuti Whatsapp Channel Republika