Nasional

Eropa Membara Lagi, Bom Molotov Bakar Polisi Prancis

PARIS – Aksi demonstrasi yang digelar ratusan ribu warga di Prancis berakhir ricuh. Sejumlah perusuh bertopeng melempar bom molotov ke arah polisi antihuru-hara di Paris. Insiden tersebut memicu penyelidikan...

1 November 2026, pukul 22:20 WIB · dibaca 0 kali

PARIS – Aksi demonstrasi yang digelar ratusan ribu warga di Prancis berakhir ricuh. Sejumlah perusuh bertopeng melempar bom molotov ke arah polisi antihuru-hara di Paris. Insiden tersebut memicu penyelidikan dugaan percobaan pembunuhan terhadap aparat penegak hukum.

Seorang polisi bahkan mengalami luka bakar setelah bom pembakar menghantam bagian bawah tubuhnya. Rekaman insiden itu beredar luas di media sosial dan memicu kemarahan publik.

Mengutip laporan The Guardian, Ahad (1/11/2026), kerusuhan pecah pada Sabtu malam di Paris dan sejumlah kota lain, termasuk Marseille, Grenoble, Bordeaux, Lyon, serta Toulouse.

Sebelumnya, sekitar 320 ribu orang turun ke jalan dalam demonstrasi yang menyoroti persoalan pendidikan, memburuknya pelayanan publik, menyusutnya prospek pekerjaan, mahalnya perumahan, dan lonjakan biaya hidup.

Aksi demonstrasi berlangsung relatif damai. Namun, setelah unjuk rasa berakhir, kelompok perusuh bertopeng dan mengenakan penutup kepala mulai melakukan kekerasan.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez menyebut tingkat kekerasan yang terjadi sebagai sesuatu yang luar biasa. Aparat menangkap lebih dari 770 orang dalam rangkaian kerusuhan tersebut.

Pengunjuk rasa mengikuti aksi demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup di Place de la Madeleine di Paris, Prancis, Sabtu (17/10/2026). - (EPA/YOAN VALAT)

Kantor kejaksaan Paris menyatakan, bom pembakar dilemparkan ke arah sekitar 15 anggota gendarmerie dan polisi. Gendarmerie merupakan kepolisian militer Prancis yang berada di bawah angkatan bersenjata.

Kejaksaan kemudian membuka penyelidikan resmi atas dugaan percobaan pembunuhan terhadap orang-orang yang menjalankan kewenangan publik.

Korban dilaporkan mengalami luka bakar tingkat dua. Insiden tersebut terekam dalam video telepon genggam yang kemudian menyebar di media sosial dan ditayangkan televisi Prancis.

Dalam rekaman yang beredar, terlihat seorang polisi yang sedang bertugas mengendalikan massa tiba-tiba dilalap api pada bagian kakinya. Dua rekannya berusaha memadamkan kobaran api tersebut.

Seorang pria mengenakan kaus putih dan topi jerami kemudian bergegas membantu memadamkan api dengan tangan kosong. Namun, seorang polisi lainnya sempat mendorong pria tersebut ke arah tembok karena mengira dia hendak menyerang aparat.

Polisi yang menjadi korban serangan itu, yang diidentifikasi dengan nama Kapten Alexandre, mengakui belakangan mengetahui bahwa pria tersebut sebenarnya datang untuk menolongnya.

"Saya tidak langsung memahami mengapa dia berada di sana karena saya sepenuhnya berkonsentrasi menghadapi situasi sulit, sementara celana saya sedang terbakar," kata Alexandre kepada AFP.

Dia mengaku mengalami luka ringan. Pelindung kaki dan tulang kering pada seragam antihuru-haranya bahkan meleleh akibat panas bom pembakar.

Kerusuhan juga melanda Jerman

Gelombang demonstrasi dan kerusuhan ternyata tidak hanya terjadi di Prancis. Sejumlah negara Eropa lainnya juga dilanda aksi protes yang berujung bentrokan antara demonstran dan aparat.

Di Jerman, lebih dari 100 ribu orang berunjuk rasa di lebih dari 30 kota pada Sabtu. Mereka menuntut perbaikan sistem pendidikan dan penurunan biaya hidup. Aksi tersebut dipimpin kampanye bertajuk Gen Z regelt, yang berarti Generasi Z akan mengambil kendali.

Di Frankfurt, kelompok perusuh merusak 17 toko dan menjarah lima di antaranya. Mereka juga melempar berbagai benda ke arah polisi, termasuk bom molotov.

Menteri Dalam Negeri negara bagian Hessen, Roman Poseck, mengatakan lebih dari 100 dari sekitar 1.300 polisi yang dikerahkan mengalami luka-luka. Aparat menangkap 54 orang berusia 13 hingga 29 tahun.

Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt mengecam aksi kekerasan tersebut. Dia menegaskan para pelaku perusakan dan penjarahan harus diidentifikasi serta dimintai pertanggungjawaban.

"Para perusuh dan penjarah akan diidentifikasi dan dimintai pertanggungjawaban," ujarnya.

Kelompok penyelenggara kampanye Gen Z regelt menyatakan tidak mendukung segala bentuk kekerasan yang terjadi dalam demonstrasi.

Protes krisis perumahan di Portugal

Di Portugal, polisi antihuru-hara menggunakan kekuatan untuk membubarkan kamp pengunjuk rasa di Lapangan Rossio, Lisbon, sekitar pukul 04.30 Ahad dini hari.

Ribuan orang sebelumnya turun ke jalan memprotes krisis perumahan. Mereka mendesak pemerintah Portugal mencabut rancangan undang-undang yang dinilai mempermudah pengusiran penyewa dan menghapus pembatasan harga sewa untuk kontrak baru.

Kamp demonstrasi yang lebih kecil di Kota Porto juga dibubarkan secara paksa.

Sementara itu, di Albania, demonstrasi menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama karena dugaan korupsi berujung bentrokan. Massa bertopeng melempar batu dan bom pembakar ke arah polisi di ibu kota Tirana.

Kementerian Dalam Negeri Albania sebelumnya menyebut sekitar 350 orang terluka dalam rangkaian demonstrasi, termasuk 200 anggota kepolisian. Sebanyak 269 anak di bawah umur juga dilaporkan ditangkap.

Kerusuhan turut terjadi di Swiss. Di Zurich, polisi menggunakan meriam air, gas air mata, dan peluru karet untuk membubarkan massa yang menyerang aparat menggunakan kembang api, botol, dan batu.

Di Basel, sekitar 150 orang berkumpul di pusat kota. Sejumlah etalase toko dihancurkan, dinding bangunan dicoret-coret, serta tempat sampah dan sepeda dibakar.

Gelombang protes di Eropa pada musim gugur tahun ini dipicu berbagai persoalan sosial dan ekonomi. Mulai dari mahalnya biaya hidup, krisis perumahan, memburuknya pelayanan publik, hingga kekhawatiran terhadap masa depan pendidikan dan pekerjaan generasi muda.

Meski sebagian besar demonstrasi berlangsung damai, rangkaian kekerasan tersebut kini menjadi tantangan serius bagi pemerintah negara-negara Eropa dalam menjaga ketertiban sekaligus merespons tuntutan masyarakat.

Lihat di situs asli

Berita terkait