Nasional

Gagalnya Kemenangan Mutlak Netanyahu yang Merugikan Militer Israel

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Di tengah perang yang terus berlangsung sejak 7 Oktober 2023, sebuah ulasan dari perspektif Israel yang dipublikasikan oleh Nadav Eyal, kolumnis harian Yedioth Ahronoth, melalui platform X,...

22 Juni 2026, pukul 15:25 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Di tengah perang yang terus berlangsung sejak 7 Oktober 2023, sebuah ulasan dari perspektif Israel yang dipublikasikan oleh Nadav Eyal, kolumnis harian Yedioth Ahronoth, melalui platform X, mengungkap betapa dalamnya krisis internal yang tengah melanda Tel Aviv.

Sorotan utamanya tertuju pada kebingungan strategis pemerintahan Benjamin Netanyahu dan bagaimana slogan kemenangan mutlak telah berubah menjadi ilusi destruktif.

Baca Juga

Ilusi tersebut mengikis doktrin militer Israel, menyeret tentara ke dalam pusaran balas dendam, sembari mengabaikan visi politik dan melompati pelajaran sejarah militer yang selama ini menjadi fondasi negara tersebut.

Dalam tulisannya, dikutip Aljazeera, Ahad (22/6/2026), Eyal menyoroti kontras yang mencolok antara janji Netanyahu untuk mengakhiri perang secara tuntas dengan pandangan realistis para pendiri negara Israel.

Menurutnya, arus utama Zionisme sejak awal tidak pernah beranggapan bahwa kemenangan mutlak dapat dicapai.

Para pemimpinnya memahami bahwa hal itu mustahil mengingat keunggulan jumlah penduduk Arab.

Mereka menyadari bahwa laut tetaplah laut yang sama, orang-orang Arab tetaplah orang-orang Arab yang sama, dan bahwa menduduki seluruh wilayah tidak akan pernah menghasilkan kemenangan yang menentukan.

Karena itulah, setelah Perang Enam Hari, pemerintahan Levi Eshkol memandang wilayah-wilayah yang diduduki sebagai semacam "titipan" yang dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai perdamaian.

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait