REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) mengajak warga Nahdlatul Ulama (NU) memperkuat kehidupan spiritual melalui amalan tarekat. Ajakan tersebut disampaikan dalam Puncak Tasyakuran Hari Lahir (Harlah) ke-69 JATMAN yang berlangsung di Plaza Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa malam (13/10/2026).
Mudir Ali Idarah Aliyyah JATMAN KH Ali Masykur Musa mengatakan, tarekat menjadi salah satu jalan untuk menjernihkan hati sekaligus memperkuat kesadaran spiritual umat Islam. Menurutnya, pendidikan ruhani semakin dibutuhkan di tengah perkembangan zaman yang cenderung menempatkan kecerdasan intelektual dan keterampilan teknis sebagai ukuran utama keberhasilan manusia.
Baca Juga- BGN Klaim Jumlah Siswa Lapar saat Berangkat ke Sekolah Berkurang Signifikan Sejak Ada MBG
- Tidak Sekadar Megah: Visi Keberlanjutan dan Strategi Finansial ala Nabi Yusuf
- Jaga Kemitraan Pendidikan, UBSI Ajak Tujuh Sekolah Jakarta dan Bekasi Jelajahi Yogyakarta
"Dengan segala hormat, saya mengajak keluarga besar NU mulai sekarang harus siap-siap bertarekat," ujar Ali Masykur di hadapan jamaah.
Ali Masykur menjelaskan, kejernihan hati memiliki peran mendasar dalam menentukan sikap, perilaku, dan keputusan seseorang. Pendidikan yang hanya menekankan kemampuan kognitif tanpa diimbangi pembinaan spiritual dinilai berisiko mengabaikan dimensi moral dalam kehidupan manusia.
"Kalau hati itu jernih, maka seluruh pengambilan keputusan, seluruh tindakan yang diamalkan adalah bicara dengan hati," katanya.
Menurut Ali Masykur, berbagai penyimpangan perilaku tidak selalu disebabkan oleh kurangnya pengetahuan seseorang terhadap aturan agama. Persoalan tersebut juga berkaitan dengan kondisi hati yang tidak mampu mengarahkan manusia untuk mengamalkan nilai-nilai kebenaran.
"Banyak orang yang salah, melanggar syariat, itu bukan karena matanya yang buta, tapi sungguh yang buta adalah hatinya," ujarnya dengan merujuk Surah al-Hajj ayat 46.
Ia menegaskan, tradisi tarekat memiliki hubungan historis yang erat dengan perkembangan Nahdlatul Ulama. Amalan tasawuf bahkan menjadi salah satu sumber inspirasi para pendiri NU dalam membangun gerakan keagamaan di bawah bimbingan ulama, termasuk Syekhona Kholil Bangkalan.
"Maka dengan demikian, tarekat adalah amalan dari Nahdlatul Ulama yang menjadi inspirasi dari para muassis di bawah pimpinan sang guru Kiai Kholil Bangkalan," katanya.
Sementara itu, Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menegaskan bahwa penguatan pendidikan spiritual merupakan kebutuhan penting bagi organisasi keagamaan. Menurutnya, kemampuan mengelola hati menjadi salah satu modal utama untuk membangun persatuan dan menjaga keberlangsungan organisasi.
Gus Kikin menjelaskan, nilai persatuan tersebut telah menjadi bagian dari pemikiran Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari ketika mendirikan NU. Semangat yang sama juga tercermin dalam upayanya membangun kerja sama antarkelompok Islam melalui Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI) pada masa perjuangan melawan kolonialisme.
"Tampaknya itu apa yang ada di Qanun Asasi, yang disebut hati itu tersambung bukan hanya di kalangan umat Islam yang mengikuti paham Ahlussunnah wal Jama'ah, bahkan paham yang berbeda-beda pun ikut," ujar Gus Kikin.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, tersebut juga mengingatkan pentingnya melatih konsentrasi spiritual dalam menjalankan ibadah. Ia mencontohkan bahwa seseorang dapat dengan mudah kehilangan kekhusyukan dalam shalat apabila kondisi hatinya tidak terus dibina.
"Nah ini kalau tidak diasah, shalatnya itu susah, baru takbiratul ihram itu sudah ingat macam-macam. Enggak tersambung dengan Allah," katanya.
Menurut Gus Kikin, pembinaan hati diperlukan agar ibadah tidak berhenti pada pelaksanaan ritual, tetapi juga memengaruhi perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Ia menilai pendidikan tasawuf memiliki peran penting dalam membantu umat memahami dan menghayati nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ajaran Islam.
Karena itu, PBNU mendorong JATMAN memperkuat perannya dalam mengembangkan pendidikan ruhani di lingkungan Nahdlatul Ulama. Gus Kikin menilai organisasi tarekat tersebut memiliki tradisi dan pengalaman panjang dalam membimbing kehidupan spiritual umat.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara