JAKARTA -- Empat warga di Kabupaten Gunungkidul dilaporkan positif antraks setelah mengonsumsi daging kambing yang sakit dan mati mendadak beberapa waktu lalu. Praktik yang dikenal sebagai mbrandu atau porak tersebut merupakan tradisi masyarakat setempat, yaitu membeli ternak yang sakit atau mati untuk membantu meringankan beban pemiliknya.
Menanggapi kejadian ini, dokter hewan sekaligus dosen IPB University, Dr drh Denny Widaya Lukman, mengatakan ternak atau hewan lain yang terinfeksi antraks tidak boleh dipotong untuk diambil dagingnya. Daging dan jeroan hewan tersebut juga tidak boleh dikonsumsi karena berisiko menularkan penyakit kepada manusia.
Baca Juga- Bukan Cuma soal Makanan, Kebiasaan Ini Jadi Pemicu Anak Obesitas di Indonesia
- Makanan yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Olahraga
- Dicoret, Dibungkam, Dibalas Konser 'Free Palestine': Macklemore Banjir Dukungan Bintang Dunia
“Daging dari hewan yang sakit dan mati mendadak tidak boleh dianggap aman untuk dikonsumsi, sekalipun telah dimasak,” kata dia dalam keterangan tertulis, pada pekan lalu.
Ilustrasi daging - (Mgrol101)
Ia mengingatkan, pemanasan atau memasak daging yang mengandung spora antraks tidak dapat menjamin spora tersebut menjadi tidak aktif. Menyantap daging tersebut juga berbahaya karena antraks disebabkan oleh bakteri Bachillus anthracis yang mampu membentuk spora sebagai mekanisme perlindungan diri ketika kondisi lingkungan tidak sesuai.
“Dalam tubuh hewan atau manusia, bakteri berada dalam bentuk sel vegetatif yang infektif karena kondisi anaerob. Sementara itu, di luar tubuh hewan atau manusia, bakteri berada dalam bentuk spora,” kata dia.
Menurut dr Denny, spora antraks dapat bertahan hidup di lingkungan dan tanah hingga puluhan tahun. Karena itu, wilayah yang pernah mengalami kasus antraks perlu mendapat perhatian khusus untuk mencegah penularan berulang.
Salah satu jalur penularan dari sapi atau hewan ruminansia lain yang terinfeksi adalah konsumsi daging atau susu yang tercemar bakteri tersebut. Daging dan jeroan hewan penderita antraks dapat mengandung sel vegetatif bakteri yang berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika