Nasional

Ketegaran Mbah Tarminah dan Pengelolaan Sampah Menjadi Ekonomi Sirkular di Guwosari

BANTUL -- Produksi sampah tak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaannya dianggap sebagai beban bagi manusia maupun lingkungan. Namun di Kalurahan (Kelurahan) Guwosari, Kapanewon (Kecamatan) Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah...

25 Oktober 2026, pukul 03:26 WIB · dibaca 1 kali

BANTUL -- Produksi sampah tak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaannya dianggap sebagai beban bagi manusia maupun lingkungan. Namun di Kalurahan (Kelurahan) Guwosari, Kapanewon (Kecamatan) Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), limbah rumah tangga itu bukan lagi menjadi sumber masalah, melainkan motor penggerak ekonomi sirkular yang menghidupi banyak warga.

Siang itu, Mbah Tarminah (84 tahun) duduk tenang di atas dingklik (kursi kecil kayu tanpa senderan) di dalam sebuah bangunan mirip gudang bercat hijau. Di hadapannya, terhampar tumpukan botol plastik bekas air mineral.

Baca Juga

Tangan keriputnya yang menggenggam sebilah pisau kecil, bergerak perlahan meski tetap cekatan. Dengan gerakan terukur yang telah dilatih oleh kebiasaan bertahun-tahun, ia mengiris dan melepas merek plastik yang menempel pada setiap badan botol. Ia juga melepas tutup dari botolnya dan membuang sisa air yang masih ada di dalam botol. Selanjutnya, botol yang sudah bersih itu dimasukkannya ke dalam sebuah karung.

Mbah Tarminah setiap hari melakukan aktivitasnya itu di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) 3R (Reduce/mengurangi, Reuse/menggunakan kembali, Recycle/mendaur ulang) Go-Sari Rehabcycle, yang dikelola oleh BUMDes Maju Sejahtera Kalurahan Guwosari. Sejak pukul 08.00 – 16.00 WIB, ia bekerja dengan memperoleh upah Rp 55 ribu per hari. Ia hanya beristirahat sekitar satu jam pada pukul 12.00 – 13.00 WIB.

“Kulo kerjane ngleteki niki (saya kerjanya melepas plastik merek dari botol ini),” ujar Mbah Tarminah, yang mengaku tak bisa berbahasa Indonesia, saat ditemui Republika di sela aktivitasnya di TPS 3R Go-Sari Rehabcycle, Kalurahan Guwosari, Jumat (11/9/2026).

Masih dengan berbahasa Jawa, Mbah Tarminah menjelaskan pekerjaan itu dilakoninya untuk menghidupi dirinya sendiri bersama seorang anak lelakinya yang berumur sekitar setengah abad. Delapan tahun yang lalu, sang anak mengalami kecelakaan lalu lintas hingga terganggu saraf otaknya dan tidak bisa lagi mencari nafkah.

Sejak saat itu, Mbah Tarminah harus membanting tulang sendirian dengan bekerja serabutan. Suaminya telah meninggal sejak 2014. Begitu pula empat anaknya yang lain, juga telah mendahuluinya menghadap Sang Khalik. Hanya tersisa satu anaknya yang mengalami gangguan saraf tersebut.

Di saat tenaganya masih kuat, Mbah Tarminah mengaku biasa bekerja sebagai buruh tani. Namun kini, tenaganya tak mampu lagi untuk mengerjakan berbagai macam pekerjaan di sawah. Sedangkan  ia dan anaknya, tetap butuh makan setiap hari.

“Ngoyok ngoten mboten iso, manen pun mboten saged (kerja dengan mengerahkan tenaga tidak bisa, memanen sudah tidak kuat),” tutur Mbah Tarminah.

Menghadapi tuntutan ekonomi itu, langkah kaki Mbah Tarminah pun mengarah ke Kantor Kalurahan Guwosari. Ia mengaku butuh pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk pengobatan rutin anaknya. Sedangkan di sisi lain, usianya telah lanjut dan tenaganya sudah lemah.

Mendengar pengaduan warganya itu, lurah Guwosari lantas meminta pengurus BUMDes untuk menerima Mbah Tarminah bekerja di TPS 3R Go-Sari. Permintaan sang lurah pun dipenuhi pihak BUMDes dan diterima dengan penuh rasa syukur oleh Mbah Tarminah. Hingga akhirnya sejak dua tahun lalu sampai sekarang, Mbah Tarminah tercatat sebagai salah satu pekerja tertua di TPS tersebut.

“(Upah Rp 55 ribu hasil bekerja di TPS 3R) ngangge nopo wae butuhe, ya ngangge tumbas beras sareng lauke, ngangge ngratake anak kula wong jadhag gara-gara penyakit (untuk memenuhi apa pun kebutuhan, seperti membeli beras dan lauk-pauknya, untuk menghidupi anak yang tidak berdaya karena penyakit),” tutur Mbah Tarminah.

Mbah Tarminah menambahkan, anak lelakinya itu sebelumnya memiliki istri dan seorang anak. Namun akibat kecelakaan dan tak bisa lagi mencari nafkah, anaknya itu bercerai dari istrinya. Sang cucu kini tinggal bersama mantan menantunya.

Sebagai seorang ibu, Mbah Tarminah mengaku sangat sedih melihat kondisi putranya. Namun, ia memasrahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa. Ia pun tetap bersyukur, di usianya yang senja, masih bisa bekerja di TPS 3R untuk memenuhi kebutuhannya dan anaknya.

Rasa syukur karena masih bisa bekerja di usia senja juga dirasakan Satiyem (72). Dulu, ia bekerja di sebuah tempat usaha yang kemudian tutup karena bangkrut.

Satiyem yang kehilangan pekerjaan, sempat bingung karena tak mudah baginya yang sudah berusia lanjut untuk memperoleh pekerjaan baru. Ia lantas ditawari untuk bekerja di TPS 3R Go-Sari, yang langsung disambutnya.

“Ditawari mau gak kerja di tempat sampah, aku bilang mau. Terus masuk ke sini (TPS 3R) sampai sekarang,” katanya.

Berbeda dengan Mbah Tarminah, Satiyem ditempatkan di bagian pembakaran sampah (insenerator). Ia pun memperoleh upah Rp 450 ribu per pekan.

Satiyem mengungkapkan, ketiga anaknya sudah berumah tangga. Namun, hal itu tak membuatnya berhenti bekerja. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, penghasilan dari kerja kerasnya itu juga disisihkan guna membantu biaya pendidikan cucunya.

“Ada tiga cucu, itu masih minta bantuan ke saya. Itu yang dua kuliah, yang satu masih SMA kelas tiga. (Yang SMA) katanya setelah lulus nanti mau lanjut ke sekolah pelayaran. Jadi saya kerja buat bantu biaya pendidikan cucu,” tutur nenek dari sepuluh cucu dan dua cicit tersebut.

Selain Mbah Tarminah dan Satiyem, manfaat keberadaan TPS 3R Go-Sari itu juga menjadi penopang hidup bagi puluhan warga lainnya. Tercatat ada 27 warga yang terlibat secara langsung menjadi pekerja dan digaji di TPS 3R tersebut.

Puluhan warga itu terlibat sejak hulu sampai hilir dalam pengelolaan sampah di TPS Go-Sari. Mulai pengambilan sampah dari masyarakat, pencatatan digital dengan aplikasi Go-Sari, pengangkutan sampah dengan kendaraan ke TPS hingga akhirnya pemilahan sampah di TPS.

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait