JAKARTA – Konsumen diajak untuk secara cermat memperhatikan konsumsi listrik sebelum menyimpulkan terjadinya kenaikan tarif. Perubahan pola pemakaian listrik dalam aktivitas sehari-hari dinilai menjadi salah satu faktor yang harus dilihat secara teliti jika ada lonjakan tagihan.
Ketua Asosiasi Lembaga Perlindungan Konsumen Listrik Nasional (Alperklinas), Tohom Purba, mengatakan ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi besarnya tagihan listrik. Di antaranya peningkatan intensitas penggunaan peralatan elektronik, perubahan kebiasaan penghuni rumah, hingga kondisi peralatan listrik yang sudah tidak bekerja secara optimal.
Baca Juga- PGE Incar Penyelesaian Kerja Sama Baru Jual Beli Listrik ke PLN Akhir Tahun Ini
- Percepat Pemerataan Listrik di Papua, PLN Listriki 128 Desa pada 2026
- PLN Dukung Pembangunan Gedung DPRD DIY melalui Penambahan Daya Listrik
"Sering kali konsumen hanya melihat nominal tagihan tanpa membandingkan jumlah pemakaian listrik dalam satuan kilowatt hour (kWh). Padahal, keduanya perlu dilihat secara bersamaan agar konsumen bisa mengetahui apakah kenaikan tagihan disebabkan peningkatan konsumsi atau faktor lainnya," ujar Tohom dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).
Menurut Tohom, konsumen perlu membangun kebiasaan memantau pemakaian listrik secara mandiri. Salah satu caranya dengan memotret angka stand meter setiap tanggal yang sama pada tiap bulan, misalnya tanggal 25. Dokumentasi tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan angka stand meter dan jumlah pemakaian kWh yang tercantum dalam tagihan listrik.
"Kebiasaan sederhana ini penting agar konsumen memiliki catatan perkembangan pemakaian listrik dari bulan ke bulan. Jika ditemukan perbedaan atau lonjakan yang tidak wajar, konsumen dapat segera meminta penjelasan dan penyesuaian kepada PLN," jelasnya.
Selain memantau stand meter, konsumen juga perlu memperhatikan penggunaan perangkat elektronik berdaya besar, seperti AC, pemanas air, pompa air, dan mesin cuci. Penggunaan perangkat tersebut dalam durasi panjang dapat berkontribusi terhadap peningkatan konsumsi listrik. Karena itu, pengaturan suhu AC, penggunaan peralatan sesuai kebutuhan, serta mematikan perangkat yang tidak digunakan dapat membantu mengendalikan pemakaian energi.
Tohom juga mengingatkan konsumen agar tidak mengabaikan kondisi instalasi dan peralatan listrik di rumah. Peralatan yang mengalami kerusakan atau tidak terawat berpotensi menyebabkan penggunaan energi menjadi tidak efisien.
"Jika konsumen sudah melakukan pencatatan dan membandingkan pemakaian, tetapi masih menemukan kejanggalan pada tagihan, jangan ragu untuk meminta penjelasan dan pemeriksaan. Konsumen memiliki hak untuk memperoleh informasi yang jelas mengenai dasar perhitungan tagihan listrik yang harus dibayarkan," tambahnya.
Menurut Tohom, literasi ketenagalistrikan menjadi penting agar masyarakat tidak hanya memahami kewajiban membayar tagihan, tetapi juga mengetahui hak sebagai pelanggan. Kesadaran untuk memantau pemakaian listrik secara berkala akan membantu konsumen mengantisipasi lonjakan tagihan sekaligus mendorong penggunaan energi yang lebih bijak.
Dengan memahami pola konsumsi, rutin mendokumentasikan stand meter, dan mengetahui hak sebagai pelanggan, masyarakat diharapkan dapat lebih cermat mengelola pengeluaran listrik rumah tangga serta membangun hubungan yang transparan antara konsumen dan PLN.
Ikuti Whatsapp Channel Republika