REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON – Para korban dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon mengalami peningkatan leukosit atau leukositosis. Namun untuk memastikan penyebabnya, masih menunggu hasil pemeriksaaan di Labkesda Provinsi Jawa Barat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon, Siti Maria Listiawaty, mengatakan, adanya peningkatan sel darah putih atau leukosit itu terungkap dari hasil pemeriksaan terhadap darah pasien. Ia menjelaskan, meningkatnya sel leukosit itu mengindikasikan adanya infeksi pada tubuh pasien.
Baca Juga- Korban Keracunan MBG Cirebon: Dari Balita, Lansia, Sampai Pegawai SPPG
- Program MBG Telah Jangkau 57 Juta Penerima di 38 Provinsi
- Potret Aksi Dua Tahun Prabowo-Gibran, Karhutla hingga MBG Jadi Sorotan
“Biasanya infeksi bakteri,” katanya, Rabu (21/10/2026).
Untuk memastikan penyebabnya, lanjutnya, pengambilan sampel telah dilakukan terhadap makanan yang masih tersimpan di SPPG. Begitu pula sampel muntahan maupun feses dari korban.
“Kami mengambil sampel muntahan pasien di Rumah Sakit Siloam. Kemudian karena gejalanya termasuk diare, maka kami juga mengambil sampel tinja pasien dari Rumah Sakit Ciremai,” terangnya.
Siti Maria mengatakan, seluruh sampel itu dikumpulkan dengan suhu dingin yang sesuai di Dinas Kesehatan. Selanjutnya pagi ini dibawa ke Labkesda Provinsi Jawa Barat untuk diperiksa.
“Untuk hasil laboratorium yang ke Labkesda itu biasanya hasilnya paling cepat 14 hari,” katanya.
Ia menambahkan, dari hasil anamnesa dan wawancara langsung dengan para korban, mereka rata-rata mengeluhkan soal kualitas menuk sop telur puyuh. Menurut informasi dari para pasien, kuah dari sop telur puyuh itu berasa asam.
Ikuti Whatsapp Channel Republika