Nasional

Lebih dari 3.000 Hektare Lahan dan Hutan di Kalimantan Masih Terbakar

BNPB mencatat lebih dari 3.000 hektare lahan terbakar di Kalimantan. Upaya pemadaman masih dilakukan.

26 Oktober 2026, pukul 21:15 WIB · dibaca 1 kali

Nasional Peristiwa Lebih dari 3.000 Hektare Lahan dan Hutan di Kalimantan Masih Terbakar CNN Indonesia Selasa, 27 Okt 2026 04:15 WIB Bagikan: URL berhasil disalin BNPB mencatat lebih dari 3.000 hektare lahan terbakar di Kalimantan. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S) Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 3.000 hektare (ha) lahan dan hutan di tiga provinsi Kalimantan, terdampak kebakaran dan hingga kini api belum padam.

Perkiraan luas lahan yang masih dalam proses pemadaman di wilayah Kalimantan sekitar 3.392 hektare dengan rincian terluas yakni Kalimantan Tengah sekitar 2.458 hektare, Kalimantan Barat 884 hektare dan Kalimantan Selatan 52 hektare.

"Berbagai strategi penanganan terus diupayakan pemerintah pusat dan daerah yang dibantu para relawan, di antaranya operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan dry ice," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan, melalui keterangan resmi, Senin (26/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, di Pulau Sumatera, BNPB mencatat 990 hektare lahan di tiga provinsi terdampak. Rinciannya, Sumatera Selatan sekitar 889 hektare, Jambi 89 hektare, dan Lampung di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) sekitar 12 hektare. Wilayah Riau tidak terpantau adanya pemadaman karhutla.

Proses pemadaman dilakukan melalui jalur darat dan udara. Untuk jalur darat, personel pemadaman tergabung dalam Satuan Tugas Darat di bawah koordinasi pos komando provinsi.

Pilihan Redaksi

Sebanyak 57.050 personel darat disiagakan di enam provinsi. Jumlah tersebut terdiri atas 16.387 personel di Kalimantan Tengah, 14.458 personel di Kalimantan Barat, 12.285 personel di Sumatera Selatan, 7.927 personel di Kalimantan Selatan, 5.984 personel di Jambi, dan sembilan personel di Lampung.

"Pemadaman didukung berbagai peralatan, antara lain selang pemadam, selang hisap, nozel, sepatu bot, pompa portabel, pompa punggung, pemukul api, dan radio komunikasi," ucap Berton.

Untuk pemadaman jalur udara mencakup 61 unit armada, yang terdiri atas 24 unit untuk patroli, CASA, dan OMC serta 37 helikopter water bombing atau pengeboman air.

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga dilakukan di sejumlah wilayah. Berdasarkan data pelaksanaan pada 23 Oktober 2026, penyemaian dilakukan dengan total 15 sortie atau penerbangan dan penggunaan bahan semai sebanyak 14.300 kilogram.

Di Kalimantan Tengah, OMC dilaksanakan sebanyak delapan sortie dengan penggunaan 7.200 kilogram bahan semai, terdiri atas 5.200 kilogram dry ice dan 2.000 kilogram natrium klorida (NaCl). Hingga laporan pada 23 Oktober, belum terdapat laporan hujan di wilayah sasaran.

Sementara itu, di Sumatera Selatan, OMC dilaksanakan sebanyak tujuh sortie dengan penggunaan 7.100 kilogram bahan semai.

"Hasil pemantauan menunjukkan jarak pandang membaik menjelang siang hari," katanya.

Di Kalimantan Barat, wilayah sasaran OMC meliputi Sekadau, Ketapang, dan Sintang. Pada 23 Oktober, hujan ringan hingga sedang dilaporkan terjadi di tujuh kabupaten, termasuk tiga wilayah sasaran. Adapun di Kalimantan Selatan, hujan dilaporkan terjadi di Kabupaten Kotabaru pada tanggal yang sama.

Pelaksanaan OMC disesuaikan dengan kondisi atmosfer dan kebutuhan masing-masing wilayah. Upaya ini menjadi bagian dari dukungan penanganan karhutla bersama operasi pemadaman darat dan dukungan udara.

Sementara itu, Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, juga turut menjadi wilayah pemadaman karhutla. Tercatat 34 titik dengan 16 hektare belum padam.

Pemantauan menggunakan drone termal dan pos pantau darat dilakukan untuk membantu mendeteksi bara tersembunyi di lahan gambut. Selain itu, penggunaan pompa jinjing dan instalasi selang air hingga hampir tiga kilometer mendukung penyaluran air ke titik api kritis.

Tak hanya itu, di Pulau Jawa juga masih terdapat lahan yang masih terbakar, tepatnya di kawasan Arjuno-Welirang, Jawa Timur.

Upaya penanganan dilakukan melalui koordinasi antarpihak dan penyisiran wilayah terdampak. Pemantauan serta penentuan prioritas pemadaman tetap diperlukan untuk mengantisipasi perkembangan api dan mengurangi risiko penjalaran lebih lanjut.

(knf/isn) Bagikan: URL berhasil disalin
Lihat di situs asli

Berita terkait