Oleh: Ustaz Fahmi Salim, Presidium Majelis Arah Indonesia (MAI)
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ kerap kali terperangkap dalam romantisme seremonial: pendar lampu, lantunan syair puji-pujian, dan nostalgia sejarah yang terisolasi di ruang-ruang kultural yang pasif. Kita kerap mereduksi kehadiran manusia agung pembawa risalah peradaban ini sekadar sebagai figur kesalehan individu, melupakan bahwa setiap hembusan napas dakwah beliau adalah konstruksi geopolitik profetik yang penuh perhitungan.
Di tengah luka kemanusiaan yang terus menganga di bumi Gaza dan aneksasi tanah dan yahudisasi Yerusalem Timur, Maulid Nabi harus bertransformasi menjadi ruang muhasabah kritis bagi seluruh lapisan umat dan elite kepemimpinan bangsa. Membicarakan Rasulullah ﷺ hari ini, tanpa menautkannya dengan nestapa dan perjuangan pembebasan Masjid Al-Aqsa serta kedaulatan tanah Palestina, adalah kegagalan fatal dalam membaca cetak biru kepemimpinan kenabian.
Baca Juga- Artholic Studio UNM Siap Tunjukkan Kemajuan Bisnis di PKP-P2MW 2026
- Destry Damayanti Ditetapkan sebagai Calon Gubernur BI, Ini Tahapan Selanjutnya
- Wamenag Tegaskan Pemerintah Netral dalam Muktamar ke-35 NU
Bagi Indonesia—sebuah bangsa dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang mengukir mandat anti-penjajahan dalam pembukaan konstitusinya—pembebasan Al-Aqsa bukan sekadar isu politik luar negeri atau solidaritas kemanusiaan parsial. Ia adalah utang sejarah spiritual, mandat teologis, dan kelanjutan dari garis komando peradaban yang diletakkan langsung oleh Baginda Rasulullah ﷺ.
Cetak Biru Profetik Pembebasan Al-Quds
Sejarah mencatat bahwa pembebasan Baitul Maqdis pada masa Khalifah Umar bin Khattab bukanlah sebuah kebetulan historis atau sekadar ambisi teritorial imperium Arab. Sebagaimana diuraikan secara tajam oleh Dr. Raghib As-Sirjani dalam karya monumentalnya Fath Filasthin: Qirā'at at-Tārikh bi Ru'yah Islāmiyyah, keberhasilan penaklukan Syam merupakan eksekusi disiplin atas sebuah masterplan yang telah dirancang langsung oleh Rasulullah ﷺ melalui dua fase kepemimpinan yang saling melengkapi.
1. Periode Makkah: Menanamkan Doktrin Teologis Qiblatain
Di tengah penindasan kafir Quraisy, mukjizat Isra Mi'raj diturunkan bukan semata perjalanan esoteris vertikal menuju Sidratul Muntaha, melainkan pergerakan horizontal transendental dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis. Allah ﷻ secara gamblang mendeklarasikan tautan organik antara dua episentrum tauhid ini:
"Masjidil Haram"⟷"Masjidil Aqsa"⟹"Poros Ketauhidan Global"
Melalui penetapan Al-Aqsa sebagai kiblat pertama (ula qiblatain), Rasulullah ﷺ mengukir kesadaran bawah sadar para sahabat bahwa membela, mencintai, dan menjaga kedaulatan Al-Quds adalah bagian integral dari syahadat. Di Makkah, Nabi meletakkan diplomasi spiritual: bahwa tanah Palestina adalah tanah wakaf peradaban Islam yang haram dibiarkan dalam belenggu tirani kemusyrikan dan kesewenang-wenangan kekuasaan zalim.
2. Periode Madinah: Peta Jalan Pertahanan dan Komando Negara
Ketika hijrah terlaksana dan kedaulatan Madinah berdiri, dimensi diplomasi spiritual bergeser menjadi tindakan geopolitik nyata. Masjid Nabawi dibangun bukan sekadar tempat bersujud, melainkan episentrum diplomasi internasional, ruang majelis pertahanan, dan markas komando tertinggi umat. Pengamanan jalur logistik dan perintisan diplomasi utara ke Syam dimulai dari komando Masjid Nabawi. Dari mihrab inilah pandangan strategis Nabi selalu tertuju ke arah utara: poros Syam dan pembebasan Baitul Maqdis.
Sembilan Langkah Menembus Tirani: Pola Sejarah Menuju Kemerdekaan
Peta jalan pembukaan peradaban Islam ke wilayah Syam terhampar dalam sembilan momentum historis terukur. Rasulullah ﷺ bertindak sebagai arsitek perintis yang menguji kekuatan lawan, membuka jalur logistik, dan menegakkan diplomasi, sementara Khulafaur Rasyidin bertindak sebagai eksekutor penegakan hukum dan kedaulatan.
GARIS WAKTU PERINTISAN & PEMBEBASAN SYAM
[NABI MUHAMMAD ﷺ: PERINTIS & PELETAK FONDASI]
629 M ── Perang Mu'tah (Uji ketahanan militer vs Bizantium)
629 M ── Ekspedisi Dzatus Salasil (Pengamanan rute logistik Teluk Aqabah)
630 M ── Perang Tabuk (Diplomasi militer 30.000 pasukan & pakta jizyah)
632 M ── Pasukan Usamah bin Zaid (Wasiat komando terakhir ke Syam utara)
[KHULAFAUR RASYIDIN: EKSEKUTOR & PENEGAK PERADABAN]
633 M ── Mobilisasi Futuhat Syam era Khalifah Abu Bakar
634 M ── Perang Ajnadain (Jatuhnya gerbang kota Gaza & Nablus)
636 M ── Perang Yarmuk (Runtuhnya hegemoni militer Romawi)
638 M ── Penyerahan Damai Baitul Maqdis & Piagam Al-'Uhdah Al-'Umariyah
640 M ── Penaklukan Pelabuhan Terakhir Qaisariyah oleh Muawiyah bin Abu Sufyan