JAKARTA -- Fenomena mengalokasikan anggaran untuk memenuhi kesenangan bernuansa nostalgia kini menjadi tren di kalangan orang dewasa. Salah satunya adalah kidult economy yaitu tren ketika orang dewasa menghabiskan uang untuk hal-hal yang identik dengan masa kanak-kanak, mulai dari komik dan action figure hingga wahana permainan.
Merespons hal tersebut, pakar ekonomi dan bisnis dari Universitas Airlangga Prof Gancar C Premananto mengatakan fenomena kidult economy lahir dari strategi produsen internasional mengincar pasar dengan daya beli lebih. Menurutnya, penurunan jumlah anak-anak akibat kondisi demografi membuat pasar utama produsen mainan semakin terkikis.
"Kondisi demografis piramida terbalik di negara-negara maju memicu penurunan jumlah konsumen anak, yang berdampak pada hilangnya pasar utama bagi produsen mainan internasional," kata Prof Gancar dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat beberapa waktu lalu.
Di sisi lain, tren kidult economy juga berkaitan dengan lipstick effect yaitu fenomena ketika konsumen tetap membeli barang-barang kecil yang bersifat mewah atau premium di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Dalam konteks ini, pengeluaran untuk mainan dan aktivitas rekreasi menjadi salah satu cara konsumen memperoleh kesenangan di tengah tekanan ekonomi.
Ilustrasi uang rupiah. - (dok. Pixabay)
Gancar mengatakan, konsumen cenderung mencari kebahagiaan yang bisa dirasakan dalam waktu singkat dibandingkan kebahagiaan jangka panjang yang belum pasti. Bagi sebagian orang dewasa, membeli mainan atau menikmati pengalaman bermain menjadi bentuk self-reward setelah menjalani rutinitas yang padat.
"Para konsumen kerap berdalih memberikan self-reward agar bisa tetap bahagia di tengah gempuran rutinitas harian. Aktivitas sehari-hari yang padat menjadi sumber stres yang berpotensi mengganggu kesehatan mental mereka," kata dia.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika