Nasional

Nelayan Pantura Cemas Ruang Hidupnya Terenggut Akibat Proyek Giant Sea Wall

SEMARANG — Pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall (GSW) di sepanjang pantai utara Pulau Jawa telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat pesisir. Meski digadang-gadang bertujuan melindungi kawasan...

26 Oktober 2026, pukul 06:57 WIB · dibaca 2 kali

SEMARANG — Pembangunan tanggul laut raksasa atau giant sea wall (GSW) di sepanjang pantai utara Pulau Jawa telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat pesisir. Meski digadang-gadang bertujuan melindungi kawasan pesisir, warga, terutama nelayan, cemas proyek GSW justru akan menghapus ruang hidup mereka.

Ketua Kelompok Nelayan Perempuan Puspita Bahari di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Masnuah, mengungkapkan, hingga saat ini dia belum mengetahui konsep konstruksi dari GSW: apakah ia akan sepenuhnya berbentuk tanggul beton atau dikombinasikan dengan vegetasi seperti mangrove. Ketiadaan informasi membuat dia dan segenap warga Demak, terutama mereka yang bekerja sebagai nelayan, dibekap kecemasan dan kebingungan. 

Baca Juga

“Jelas bingung dan khawatir dengan giant sea wall ini, apalagi kami tidak dilibatkan dalam perumusan, kami tidak diundang. Jadi kami buta banget dengan pembangunan giant sea wall itu,” ungkap Masnuah ketika diwawancara saat menghadiri acara diskusi publik untuk membahas proyek GSW yang diselenggarakan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) di Kota Semarang, Jumat (23/10/2026).

Dia menjelaskan, saat ini warga pesisir Demak sudah terdampak pembangunan Tol Semarang-Demak yang didalamnya mencakup pembuatan tanggul laut. Menurut Masnuah, dalam pembangunannya, Tol Semarang-Demak turut membabat 46 hektare mangrove yang ditanam dan dirawat warga. Padahal keberadaan mangrove sangat penting bagi nelayan karena menjadi habitat ikan serta biota laut lainnya.

“Merawat mangrove itu juga perlu perawatan, perlu perhatian, kepedulian. Jadi kalau mangrove itu dibabat habis sekitar 46 hektare itu, sampai sekarang belum ada gantinya, dan merugikan masyarakat pesisir skala besar,” kata Masnuah.

Menurut dia, kehadiran proyek Tol Semarang-Demak telah mengakibatkan nelayan kesulitan mencari dan menangkap ikan. “Mulai dari akses, jarak, hingga penangkapan ikan, berkurang drastis. Apalagi nanti kalau ini dibangun tanggul laut raksasa, mereka bayangannya sudah ketakutan: hidup kami bagaimana?; masa depan kami bagaimana? Anak cucu kami hidup di mana?” ucapnya.

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait