REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan pelemahan hingga menyentuh level Rp 18.100 pada awal pekan ini. Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan, pihaknya akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah.
Merujuk laporan Bloomberg, rupiah ditutup melemah 55 poin atau 0,30 persen menuju level Rp 18.135 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (26/10/2026). "Ya, kita tetap ada di pasar. Ini tergantung supply demand hari ini. Pokoknya tetap kita monitor pergerakannya," kata Destry kepada wartawan di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, Senin (26/10/2026).
Baca Juga- Jumat IHSG Naik, Sudah Empat Hari Beruntun Hijau
- IHSG Rebound, Investor Asing Jual Saham Rp8 Triliun
- IHSG Hijau Usai Presiden RI Bilang tidak Takut Diancam MSCI
Saat ditanya mengenai perlu atau tidaknya perubahan strategi intervensi yang dilakukan untuk menenangkan pasar, Destry menyampaikan, dinamika yang terjadi sesungguhnya perkara volatilitas biasa. "Ini volatilitas biasa. Tapi kita akan terus ada (di pasar melakukan intervensi). Kita lihat root cause-nya juga," ucapnya.
Rupiah tertekan
Terpisah, ekonom dari Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi berpendapat, pergerakan nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus level psikologis baru di kisaran Rp 18.100 per dolar AS. Hal itu menjadi sinyal penting yang menuntut kewaspadaan tinggi, baik dari otoritas moneter maupun para pelaku pasar.
“Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri, melainkan hasil dari akumulasi beberapa tekanan struktural yaitu dinamika global dan yield US Treasury. Penguatan atau volatilitas pada imbal hasil obligasi pemerintah AS serta pergerakan indeks dolar (DXY) secara konsisten menjadi magnet yang menarik arus modal keluar dari pasar keuangan domestik ke aset-aset safe haven," kata Rahma kepada wartawan di Jakarta, Senin.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika