Nasional

Obama 'Ledek' Trump Soal Iran: Setelah Tujuh Bulan Berlalu, Bagaimana Kondisi Perang Sekarang?

OHIO — Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama melontarkan kritik pedas terhadap presiden petahana Donald Trump terkait perang dengan Iran. Obama meremehkan strategi diplomasi politikus Partai Republik tersebut yang dinilainya tidak...

25 Oktober 2026, pukul 22:51 WIB · dibaca 1 kali

OHIO — Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama melontarkan kritik pedas terhadap presiden petahana Donald Trump terkait perang dengan Iran. Obama meremehkan strategi diplomasi politikus Partai Republik tersebut yang dinilainya tidak matang.

“Mereka ini bukan orang-orang yang serius. Sama sekali tidak serius. Dan masalah utamanya, rakyat yang pada akhirnya harus membayar mahal akibat ketidakseriusan mereka,” kata Obama saat berkampanye untuk politikus Partai Demokrat di Ohio, Sabtu(24/10/2026) waktu setempat, seperti dikutip dari The Independet.

Baca Juga

Amerika Serikat bersama Israel mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Saat itu, Trump mengklaim bahwa warga AS berada dalam ancaman bahaya terkait ambisi nuklir negara di Timur Tengah tersebut.

Namun, Obama menegaskan bahwa persoalan nuklir Iran sebenarnya telah diselesaikan pada masa pemerintahannya — sampai akhirnya Trump membatalkan kesepakatan tersebut.

“Mari kita cermati perang Iran ini. Alasan awalnya adalah kita masuk ke sana dan memaksa mereka menghentikan program nuklir serta melepaskan senjata nuklir mereka,” ujar Obama. “Kenyataannya, Iran saat itu tidak memiliki senjata nuklir karena saya telah membuat kesepakatan yang diakui semua pihak — mencegah mereka mendapatkan nuklir. Dan saya tidak perlu meluncurkan satu rudal pun untuk melakukannya; saya hanya perlu melakukan diplomasi.”

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam keterangan pers di Gedung Putih, Senin (31/8/2026). - (EPA/Annabelle Gordon)

Obama merujuk pada Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang umumnya dikenal sebagai Kesepakatan Nuklir Iran. Kesepakatan tersebut ditandatangani Iran pada 2015, sebelum akhirnya Trump menarik AS keluar dari perjanjian itu pada periode pertamanya bertugas di Gedung Putih.

Perjanjian tersebut membatasi program nuklir Iran guna memastikan pemanfaatan bahan nuklir hanya untuk tujuan damai,dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi.

Namun, saat menarik diri dari perjanjian pada 2018, Trump berdalih bahwa kesepakatan itu “tetap membiarkan Iran memperkaya uranium dan secara bertahap mencapai ambang batas pembuatan senjata nuklir.”

View this post on Instagram

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait