REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) mencatatkan kinerja keuangan positif pada kuartal III 2026 dengan pendapatan neto mencapai Rp2,41 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 17,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp2,06 triliun.
Direktur Keuangan PT Pyridam Farma Tbk, Sinta Ningsih, menjelaskan bahwa pertumbuhan tersebut ditopang oleh layanan Contract Development and Manufacturing Organization (CDMO) yang kini beroperasi dari Indonesia dan Australia. "Pertumbuhan pendapatan 17,2 persen yang diiringi kenaikan laba bruto 29,9 persen serta penyusutan rugi usaha 91,5 persen mencerminkan bahwa model bisnis manufaktur terintegrasi dan layanan CDMO kami semakin solid," kata Sinta dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Perbaikan Kualitas Pertumbuhan
Secara keseluruhan, kinerja hingga kuartal III/2026 menunjukkan perbaikan pada kualitas pertumbuhan, bukan sekadar pada skalanya. Laba bruto Perseroan tumbuh 29,9 persen menjadi Rp542,76 miliar dari sebelumnya Rp417,86 miliar, tumbuh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan. Sejalan dengan itu, margin laba bruto menguat menjadi 22,5 persen dari sebelumnya 20,3 persen. Penguatan margin ini bersumber dari volume produksi yang lebih besar sehingga menekan biaya tetap per unitnya menjadi lebih rendah.
Perbaikan berlanjut hingga level operasional. EBITDA Perseroan mencapai Rp239,9 miliar, jauh meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp8,8 miliar. Depresiasi dan amortisasi mencapai Rp252,7 miliar, sebagian besar terkait aset hasil akuisisi Probiotec, sementara beban keuangan tercatat Rp322,4 miliar. Hal tersebut menyebabkan Perseroan masih mencatatkan rugi periode berjalan sebesar Rp338,7 miliar, namun angka ini telah menyusut 7,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Setelah selisih kurs penjabaran, rugi komprehensif menyusut 27,8 persen menjadi Rp221,4 miliar.
"Capaian hingga kuartal III/2026 menunjukkan bahwa integrasi strategi ekspansi dan efisiensi operasional yang kami jalankan selama dua tahun terakhir berada di jalur yang tepat," ujar Sinta.
Ekspansi Portofolio dan Kapabilitas CDMO
Sebagai mitra strategis bagi sejumlah perusahaan farmasi terkemuka, PYFA terus memperluas portofolio produk berlisensi. Pada September 2026, Perseroan resmi mengantongi Persetujuan Izin Edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI untuk produk Fenofibrate 145 mg, yang difokuskan pada penanganan gangguan lipid dan pencegahan masalah kardiovaskular. Kontribusi produk ini akan mulai terlihat pada periode berikutnya seiring berjalannya distribusi.
Kapabilitas CDMO yang menjadi penopang kinerja ini dibangun secara bertahap sejak Perseroan mengakuisisi Probiotec dan meluncurkan layanan CDMO pada 2024. Cakupannya meliputi pengembangan formula, registrasi produk, hingga produksi massal untuk beragam bentuk sediaan mulai dari tablet, kapsul, sirup, krim, sampai injeksi, didukung fasilitas manufaktur di Indonesia dan Australia. Fasilitas Perseroan di Australia telah mengantongi lisensi Therapeutic Goods Administration (TGA), yang membuka akses ke pasar ekspor dengan standar internasional.
Perseroan juga telah menyelesaikan ekspansi fasilitas injeksi steril Lini 3 di PT Ethica Industri Farmasi, yang ditargetkan mulai memproduksi secara komersial pada tahun 2027 untuk mengoptimalkan kapasitas terpasang dan monetisasi layanan CDMO. "Kami tidak hanya memperluas skala bisnis di pasar domestik dan regional, tetapi juga secara konsisten memperbaiki struktur biaya operasional untuk mempercepat pencapaian profitabilitas perseroan," kata Sinta menambahkan.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : antara