JAKARTA -- Deretan tenant fesyen lokal di Hall B Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, menjadi magnet bagi pengunjung BSI International Expo 2026, Sabtu (24/10/2026) siang. Didominasi kaum perempuan, pengunjung tampak lalu-lalang menyusuri stan pakaian dan hijab, mencari model yang sesuai selera sekaligus berburu penawaran menarik.
Zahra (24 tahun), salah seorang pengunjung, terlihat antusias menjelajahi bazar fesyen tersebut. Ia datang dengan tujuan mencari pakaian dari merek lokal yang selama ini menjadi pilihannya. Beberapa barang incarannya pun sudah didapat, mulai dari kemeja hingga rok. Namun, pencariannya belum berakhir karena masih ada kardigan yang ingin dibeli.
Baca Juga- Masyarakat Buru Produk Lokal di BSI International Expo 2026
- BSI International Expo 2026 Catat Transaksi Rp5,38 Triliun,Tembus 65.800 Pengunjung
- BSI Targetkan Transaksi Rp 5 Triliun di International Expo 2026
“Menurut aku so far bagus-bagus sih. Sesuai juga dengan selera aku. Aku sekarang semua bajunya local brand juga,” ujar Zahra kepada Republika di sela-sela kunjungannya, Sabtu (24/10/2026).
Bagi Zahra, kualitas produk lokal tidak kalah dibandingkan dengan merek luar negeri. Selain memiliki desain yang sesuai dengan seleranya, pakaian dari merek lokal juga memberikan kenyamanan tersendiri. “Enggak jauh beda. Local brand sama brand luar enggak jauh beda dan aku lebih nyaman local brand sebenarnya,” ujarnya.
Pengalaman serupa dirasakan Rina (40 tahun), pengunjung yang ditemui di tenant Kopi Ketjil. Ia mengaku tertarik datang ke expo karena bisa menemukan berbagai produk dalam satu tempat, mulai dari pakaian, makanan, hingga minuman. Agenda hiburan yang dihadirkan penyelenggara juga menjadi daya tarik tersendiri.
Rina bahkan telah membeli pakaian dari salah satu merek lokal yang menurutnya memiliki model menarik. Keputusannya membeli produk tersebut bukan semata-mata karena ingin mendukung produk dalam negeri, melainkan karena kualitas bahan dan desainnya sesuai dengan kebutuhan.
“Model pertama, bahan, kemudian harga,” kata Rina saat menjelaskan pertimbangannya dalam membeli pakaian.
Menurut dia, produk lokal kini memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan produk luar negeri. Bahkan, dalam beberapa hal, kualitasnya dinilai lebih baik dengan harga yang relatif terjangkau.
“Kualitasnya sama. Bahkan lebih baik kualitasnya. Dan harganya ya pastinya terjangkau,” ujarnya.
Rina mengaku cukup selektif dalam memilih pakaian. Karena itu, keputusan membeli produk lokal menjadi salah satu bentuk penilaiannya terhadap kualitas barang yang ditawarkan.
“Ya makanya saya beli. Kalau enggak ya enggak akan saya beli. Saya pemilih soalnya,” kata dia.
Tak hanya fesyen, Rina juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjajal beragam produk kopi lokal yang tersedia. Ia mengaku menemukan sejumlah pilihan yang sebelumnya belum pernah dicoba. Banyaknya pilihan kuliner yang tersedia bahkan melampaui perkiraannya sebelum datang ke lokasi.
Meski mengapresiasi perkembangan produk lokal, Rina menilai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih perlu memperkuat strategi branding agar lebih mudah dikenali konsumen internasional. Menurut dia, produk Indonesia memiliki potensi besar, tetapi persepsi bahwa barang luar negeri lebih unggul terkadang masih memengaruhi pilihan konsumen.
“Branding-nya ya. Jadi bikin sesuatu yang lebih bisa mudah dikenali lagi masyarakat luar,” ujarnya.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika