REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Teknologi secanggih apa pun, pada akhirnya, tetap membutuhkan tangan manusia untuk menjalankannya. Itulah yang menjadi fokus kerja Direktorat Bina Aparatur Kependudukan dan Pencatatan Sipil (BAKPS) Kemendagri di Jakarta, Senin (17/8/2026), yang bertugas memastikan ribuan aparatur Dukcapil di seluruh Indonesia dalam melayani administrasi kependudukan warga.
"Warga boleh mengurus dokumennya lewat aplikasi, lewat sistem yang serba otomatis. Tapi begitu ada kendala, begitu ada pertanyaan, begitu ada kasus yang tidak sesuai prosedur baku, yang mereka hadapi tetap manusia," ujar Direktur BAKPS Erliani Budi Lestari dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Baca Juga- Mudahkan Warga Urus Administrasi Kependudukan, Dukcapil Jaksel Gelar Layanan Jemput Bola
- Tito Sebut Data Dukcapil Paling Lengkap: Dilengkapi Identitas Biometrik
- Diingatkan Dampak Obligasi Rp 3,5 Triliun, Pramono Ingin Temui Mendagri
Perjalanan panjang Dukcapil dari sistem pencatatan manual menuju era digital, menurut Erliani, sesungguhnya adalah penjelajahan untuk mengubah kompetensi manusianya juga. Petugas yang dulu terbiasa menulis dengan tangan di buku register, kini dituntut memahami sistem informasi terintegrasi, keamanan data, serta cara kerja aplikasi berbasis biometrik untuk aktivasi IKD.
"Dulu, yang dibutuhkan petugas Dukcapil itu ketelitian menulis dan mengarsipkan. Sekarang kompetensinya jauh lebih kompleks. Mereka harus paham sistem, paham keamanan data, paham cara berkomunikasi dengan warga yang belum tentu familier dengan teknologi. Ini bukan transformasi kecil," jelas Erliani.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika