DENPASAR — Pemberdayaan penyandang disabilitas mental membutuhkan ruang dan kesempatan agar mereka dapat mengembangkan keterampilan serta berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi. Salah satu upaya tersebut dilakukan Pertamina melalui dukungan terhadap Rumah Berdaya di Denpasar, Bali, yang memberdayakan penyintas skizofrenia melalui kegiatan produksi dupa berbahan ampas kopi.
Melalui bantuan peralatan dan pelatihan sejak 2022, Rumah Berdaya mengembangkan kegiatan produksi yang melibatkan penyintas skizofrenia sesuai kemampuan masing-masing. Salah satu inovasi yang dihasilkan adalah pemanfaatan ampas kopi sebagai bahan baku dupa yang memiliki nilai ekonomi.
Penggerak Rumah Berdaya, I Nyoman Sudiasa, mengatakan pemanfaatan ampas kopi mulai dikembangkan pada 2023. Sebelumnya, kelompok tersebut menggunakan serbuk yang dibeli dari pasaran.
“Awalnya kami menggunakan serbuk yang ada di pasaran. Kemudian, kami mencoba memanfaatkan ampas kopi untuk bahan dupa dan ternyata berhasil,” ujar Sudiasa.
Proses produksi dimulai dengan mengumpulkan ampas kopi dari sejumlah mitra. Bahan tersebut kemudian dijemur selama kurang lebih satu hari hingga kering, lalu diayak agar lebih halus.
Ampas kopi selanjutnya dicampur dengan serbuk kayu sebagai bahan perekat, diberi air dan tambahan aroma kopi, kemudian dicetak menjadi dupa. Setelah itu, produk kembali dijemur sebelum dikemas.
Dupa tersebut dipasarkan dengan harga Rp15 ribu per bungkus yang berisi sekitar 60 batang. Pemanfaatan ampas kopi juga memberikan nilai tambah pada bahan sisa konsumsi yang sebelumnya tidak terpakai.
Rumah Berdaya saat ini memiliki 27 anggota. Dari jumlah tersebut, sekitar 10–12 orang terlibat dalam kegiatan produksi. Pembagian pekerjaan dilakukan secara fleksibel karena kemampuan konsentrasi dan kondisi setiap anggota berbeda.
Ada anggota yang bertugas mencetak dupa, menjemur bahan, membuat kemasan, hingga memasukkan produk ke dalam bungkus. Dengan pembagian tersebut, setiap orang dapat mengambil bagian sesuai keterampilan dan kemampuannya.
Dalam kondisi produksi optimal, kelompok ini mampu mengolah sekitar delapan kilogram bahan dalam sehari. Dari satu kilogram bahan, hasilnya diperkirakan mencapai 12 bungkus dupa. Namun, jumlah produksi bergantung pada kondisi cuaca karena proses pengeringan membutuhkan waktu lebih lama ketika musim hujan.
Sudiasa menjelaskan, kegiatan usaha tersebut tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan. Hasil penjualan digunakan untuk menutup biaya produksi, sedangkan kelebihannya dibagikan kepada anggota yang terlibat.
Anggota yang membantu membuat kemasan, misalnya, memperoleh upah Rp500 per lembar. Sementara itu, anggota yang mencetak dupa mendapatkan bayaran berdasarkan jumlah bahan yang berhasil diolah.
“Konsep kami bukan berorientasi pada keuntungan. Biaya produksi tetap harus tertutup, tetapi kelebihan hasilnya kami kembalikan kepada teman-teman,” kata Sudiasa.
Menurut dia, kegiatan produksi juga memberikan kesempatan bagi anggota untuk membangun rutinitas, melatih keterampilan, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Meski manfaat terapeutiknya belum pernah diteliti secara khusus oleh kelompok tersebut, aktivitas produktif menjadi ruang bagi para anggota untuk berpartisipasi dan mengembangkan kemampuan.
Sudiasa sendiri merupakan penyintas skizofrenia yang telah menjalani pengobatan selama bertahun-tahun. Pengalaman tersebut membuatnya memahami pentingnya pendampingan, pengobatan, dan lingkungan yang mendukung proses pemulihan.
Dia berharap kegiatan pemberdayaan seperti ini dapat membantu mengurangi stigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas mental. Menurut dia, mereka tetap memiliki kemampuan untuk bekerja, berkarya, dan berkontribusi apabila mendapatkan kesempatan yang sesuai.
“Yang terutama adalah mengurangi stigma negatif. Kami juga ingin menunjukkan bahwa penyandang disabilitas mental tetap punya harga diri dan masih bisa berkarya,” ujarnya.
Kisah Rumah Berdaya menjadi salah satu praktik pemberdayaan masyarakat yang diperkenalkan dalam rangkaian The 9th ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) Conference and Exhibition 2026 di Bali.
Melalui dukungan terhadap kelompok tersebut, Pertamina turut membuka ruang bagi penyintas skizofrenia untuk mengembangkan keterampilan dan menjalankan kegiatan ekonomi produktif. Pengalaman Rumah Berdaya menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak harus menuntut setiap orang memiliki kemampuan yang sama, tetapi menyediakan kesempatan agar mereka dapat berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing.
Ikuti Whatsapp Channel Republika