SINGAPURA -- Sepuluh petinggi perusahaan Indonesia berbasis di Singapura bertemu dengan Menteri Senior Singapura dan sejumlah pejabat pada Rabu (29/10/2026). Pertemuan itu terkait dengan kebakaran hutan di Indonesia yang memicu bencana kabut asap di Singapura.
Seperti dilansir Strait Times mereka yang hadir dalam pertemuaan itu di antaranya Bumitama Agri diwakili oleh kepala eksekutif sekaligus ketua eksekutifnya, Lim Gunawan Hariyanto.
Kemudian Golden Agri-Resources diwakili oleh ketua sekaligus kepala eksekutifnya, Franky Oesman Widjaja. Selanjutnya ada Asia Pulp & Paper (APP) Company, APP Company (China), dan Golden Agri International diwakili oleh Franky Oesman Widjaja.
"Keluarga Widjaja merupakan pemilik Sinar Mas, sebuah konglomerat asal Indonesia yang membawahi perusahaan-perusahaan APP serta Golden Agri International," demikian tulis Strait Times.
Selain itu, hadir pula dalam pertemuan tersebut Bernard Tan, penasihat senior Sinar Mas. First Resources diwakili oleh Ciliandra Fangiono, selaku kepala eksekutif dan direktur eksekutif.
Indofood Agri Resources diwakili oleh Mark Wakeford, selaku kepala eksekutif dan direktur eksekutif. Kencana Agri diwakili oleh Albert Maknawi, selaku kepala eksekutif dan direktur eksekutif.
Dari TSH Global Plantation dan TSH Oversea hadir Kelvin Tan Aik Pen, selaku ketua dan salah satu pendiri TSH Resources, perusahaan induk dari kedua entitas tersebut. Sementara, Wilmar International diwakili oleh Kuok Khoon Hong, selaku ketua dan kepala eksekutif.
Tujuh eksekutif yang mewakili perusahaan-perusahaan tersebut—yang duduk tepat di hadapan para menteri—menunjukkan ekspresi wajah kaku saat media diizinkan masuk ke dalam ruangan untuk keperluan pengambilan foto dan video.
Sementara itu, menurut sumber di dalam ruangan seperti dilaporkan the Strait Times, eksekutif kedelapan—Bernard Tan, penasihat senior untuk Sinar Mas Group (perusahaan induk dari Asia Pulp & Paper dan Golden Agri Resources)—memilih untuk tidak duduk di barisan depan bersama para pimpinan lainnya.
Menteri Senior K. Shanmugam mengatakan kebakaran yang menyebabkan kabut asap di Indonesia dipicu oleh praktik bisnis yang tidak bertanggung jawab, dan bukan merupakan fenomena alam.
“Jika terdapat kekhawatiran mengenai keterlibatan suatu perusahaan—baik secara langsung maupun melalui hubungan korporat atau rantai pasoknya—kami akan memeriksa fakta-faktanya secara saksama,” ujarnya.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika