REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pola asuh di keluarga Taufik Hidayat, pelaku penyekapan dan penganiayaan terhadap kekasihnya YTR di Kabupaten Bandung, kini menjadi sorotan. Sifat bengis dan tempramen Taufik diduga terkait dengan pola asuh di keluarga yang selalu memperlakukannya sebagai anak emas.
Dalam podcast bersama Gubernur Jawa Barat, sang ayah mengungkap bahwa sejak kecil Taufik menjadi anak kesayangan karena dianggap paling ganteng dibandingkan saudara-saudaranya. Kondisi ini membuat Taufik kerap dibela bahkan ketika melakukan kesalahan.
Baca Juga- Taufik Hidayat Minta Maaf, Keluarga Korban: Saya Nggak Mau Dia Dihukum Mati, Serahkan Dulu ke Kami
- Mengapa Korban Penyekapan Bandung Sulit Kabur?
- Belajar dari Kasus Penyekapan di Bandung, Kenali Tanda Hubungan Mulai Nggak Sehat
Menanggapi hal tersebut, psikolog klinis senior sekaligus Direktur Personal Growth, Ratih Ibrahim, mengatakan lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk karakter seseorang. Menurutnya, pola pengasuhan yang diterapkan orang tua akan meninggalkan jejak yang kuat terhadap pembentukan konsep diri, kepribadian, hingga perilaku anak ketika memasuki usia dewasa.
"Pola pengasuhan dalam keluarga tentu menorehkan banyak jejak warna dalam pembentukan konsep diri, kepribadian, dan perilaku yang bersangkut ketika ia dewasa. Pengaruhnya besar dan sangat signifikan," kata Ratih saat dihubungi Republika, Jumat (26/6/2026).
Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan (tengah) didampingi Direskrimum Polda Jabar Kombes Pol I Gede Adhi Mulyawarman (kanan) dan DirresPPA-PPO Polda Jabar Kombes Pol Rumi Untari (kiri) memberikan keterangan pers kasus tindak pidana penyekapan dan penganiyaan berat di Mapolda Jawa Barat, Bandung, Jawa Barat, Rabu (24/6/2026). Kepolisian Daerah Jawa Barat menyatakan masih melakukan permeriksaan secara rinci sekaligus membuka layanan call center 110 dan membentuk satuan tugas (Satgas) khusus untuk mencari kemungkinan korban lain dari pelaku Taufik Hidayat atas kasus penganiayaan dan penyekapan terhadap wanita berinisial YTR di Bandung. - (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)
Ratih menilai pola asuh "golden child" atau selalu memusatkan perhatian kepada satu anak dan selalu memenuhi semua keinginannya dapat berdampak pada emosional anak. Anak tersebut berpotensi tumbuh dengan ego yang sangat besar dan kurang peduli terhadap orang lain.
"Karena terbiasa apa-apa hanya untuk dia, egonya bisa bertumbuh sangat besar, menjadi pribadi yang selfish dan kurang peduli kepada orang lain," kata Ratih yang juga menjabat Tim Ahli Pokja Kesehatan Jiwa Kemenkes RI.
Foto Yuvita Tri Rezeki (29 tahun) yang menjadi korban penyekapan di Bandung. - (Fauzi Ridwan)
Namun demikian menurut Ratih, pola asuh "golden child" tidak lantas mematikan empati pada anak. Menurut dia, anak bisa saja tetap memiliki empati, tetapi pada saat yang sama tumbuh dengan kecenderungan lebih mementingkan dirinya sendiri.
"Hanya saja apakah dengan pemanjaan sebagai golden child membuat empati seseorang tidak bertumbuh, itu yang belum tentu. Tapi bisa jadi dia tumbuh jadi individu yang egois, mementingkan diri sendiri," kata dia.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika