REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Momen peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi ruang refleksi mendalam mengenai besarnya peran pendidikan pesantren dalam membentuk karakter generasi muda bangsa.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Cholil Nafis menegaskan bahwa nilai utama yang ditanamkan dalam tradisi pesantren adalah pembentukan kemandirian ekonomi serta mental yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Baca Juga- Tangani Kekerasan di Pesantren, Menag Luncurkan Satgas Safe Santri
- Refleksi Hari Santri 2026: Saat Kecerdasan Buatan Merajai Teknologi, Bagaimana Relasi Santri Kiai?
- Santri Masa Kini: Menjaga Tradisi, Menembus Batas Profesi
Kiai Cholil Nafis membagikan pengalaman pribadinya semasa mengenyam pendidikan di pondok pesantren, di mana proses kedisiplinan dan kemandirian ditempa sejak usia dini.
"Belajar mandiri sejak saya dulu SD keluar dari rumah. Diajari pertama mencuci sendiri, kemudian melipat baju sendiri, hingga merapikan alat-alat mandi sendiri. Itu sederhana, tapi membuat kita jauh lebih mandiri," kata Kiai Cholil , dikutip Republika dari MUI Digital, Kamis (22/10/2026)
Selain kedisiplinan harian, Kiai Cholil menyoroti pentingnya penggalangan mental mandiri secara ekonomi yang dipelajarinya dari hal-hal kecil, seperti mengelola uang saku yang sangat terbatas.
Pengalaman mengelola anggaran bulanan semasa menjadi santri diakui menjadi pondasi utama yang membentuk kemampuannya bertahan hidup dan mandiri secara finansial di kemudian hari.
Lihat postingan ini di Instagram
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika