JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tidak akan melemah hingga menembus Rp19.000 per dolar AS. Ia menilai kondisi makroekonomi Indonesia saat ini masih relatif stabil.
"Ya, kita lihat saja, tapi kita lebih optimistis (rupiah tidak tembus Rp19.000 per dolar AS). Nanti kita lihat, kita optimistis dengan kondisi makroekonomi," kata Airlangga saat ditemui di Jakarta, Rabu (29/10/2026).
Baca Juga- Rupiah Mendekati Rp 18.200, Harga Minyak dan Pengumuman MSCI Jadi Pemicu
- Rupiah Nyaris Tembus Rp 18.200, BI Ungkap Faktor-faktornya
- Tertekan Minyak Dunia, Rupiah Loyo ke Level Rp 18.155 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu melemah 28 poin atau 0,15 persen menjadi Rp 18.184 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp 18.156 per dolar AS. Angka itu tercatat menjadi rekor terlemah sepanjang masa bagi rupiah terhadap dolar AS.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menyampaikan bahwa pergerakan rupiah dan mata uang kawasan pada Rabu masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah. Hal itu disampaikan sebagai respons terhadap kondisi nilai tukar yang hampir menyentuh level Rp 18.200 per dolar AS.
Adapun kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang diterbitkan BI pada Rabu sore tercatat berada di level Rp 18.183 per dolar AS.
"Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas 115 dolar AS per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea.
Lebih lanjut, Erwin menjelaskan bahwa sentimen risk-off yang memburuk mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara berkembang. Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan imbal hasil (yield) obligasi.
Dari dalam negeri, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana. Kebutuhan valuta asing (valas) domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan.
Erwin mencatat pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan.
Secara bulanan, rupiah melemah 1,15 persen. Sementara itu, cadangan devisa tetap terjaga sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026.
BI juga terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sesuai dengan fundamentalnya.
Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot. Selain itu, BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
"Bank Indonesia terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya," kata Erwin.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara