REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Santri masa kini dituntut tidak hanya memiliki kedalaman ilmu agama dan kematangan spiritual, tetapi juga menguasai sains, teknologi, bahasa asing, serta keterampilan profesional agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. Meski dituntut adaptif terhadap perkembangan zaman, santri harus tetap menjaga tradisi pesantren, ketawadhuan, dan akhlak sebagai fondasi jati diri.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Pesantren, KH Ahmad Fahrur Rozi mengatakan, santri masa kini harus memiliki kedalaman ilmu agama, keluasan wawasan, dan kemampuan menjawab tantangan zaman. Santri harus mampu berkiprah di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, sains, teknologi, ekonomi, hingga kepemimpinan.
Baca Juga- Militer AS Evakuasi Tentara dan Diplomat dari Timur Tengah, Perang AS-Iran akan Dimulai Lagi?
- Santri Masa Kini: Menjaga Tradisi, Menembus Batas Profesi
- KKP Tangkap 154 Kapal Ilegal di Perairan Indonesia hingga September 2026
"Penguasaan bahasa Arab dan Inggris sangat penting agar santri mampu mendalami khazanah keilmuan Islam sekaligus terhubung dengan dunia internasional. Namun, santri bukan sekadar orang yang pernah belajar di pesantren. Jati diri santri harus tercermin dalam wirid, tirakat, tawadhu, dan akhlaknya," kata Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur 1 Bululawang Malang yang akrab disapa Gus Fahrur kepada Republika, Rabu (21/10/2026)
Ia menegaskan, santri harus cerdas pikirannya, kuat spiritualitasnya, dan nyata pengabdiannya kepada umat dan bangsa.
Menurutnya, pesantren terus berkembang dengan mengintegrasikan pendidikan agama, pendidikan formal, sains, teknologi, bahasa asing, dan keterampilan hidup. Perkembangan ini penting untuk mempersiapkan santri menghadapi tantangan masa depan.
Namun, Gus Fahrur mengingatkan, modernisasi tidak boleh menghilangkan ruh pesantren. Penguasaan kitab kuning, tradisi keilmuan, wirid, tirakat, ketawadhuan, dan keteladanan kiai harus tetap menjadi fondasi.
"Pesantren bukan sekadar tempat mencetak orang pintar, melainkan tempat membentuk manusia berilmu, berakhlak, dan memiliki kedalaman spiritual," ujarnya.
Gus Fahrur mengatakan, pesantren harus semakin luas membuka ruang bagi penguasaan sains, teknologi digital, bahasa asing, kewirausahaan, dan keterampilan profesional. Bahasa Arab penting untuk memperdalam khazanah keilmuan Islam, sedangkan bahasa Inggris membuka akses terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan pergaulan internasional.
Ia mengingatkan, santri harus memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi ilmuwan, profesional, pengusaha, dan pemimpin di tingkat nasional maupun global. Namun, semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, semakin kuat pula seharusnya tawadhu dan tanggung jawab moralnya. Kemajuan intelektual harus berjalan seiring dengan kematangan spiritual.
Gus Fahrur mengatakan, pesantren memiliki prinsip al-muhafazhah 'alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yakni menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Teknologi, bahasa, dan metode pembelajaran boleh berkembang, tetapi wirid, tirakat, tawadhu, adab kepada guru, dan keteladanan tidak boleh ditinggalkan. Semua itu merupakan bagian penting dari pembentukan karakter dan kedalaman spiritual santri.
"Kita tidak ingin melahirkan generasi yang hebat secara akademik, tetapi kering secara rohani. Santri harus maju dalam ilmu pengetahuan dan mampu berkomunikasi dengan dunia internasional, tetapi tetap rendah hati, kuat adabnya, dan teguh memegang nilai-nilai Islam," ujarnya.
Menurutnya, santri masa depan harus memiliki kedalaman ilmu agama, kematangan spiritual, kemampuan berpikir kritis, penguasaan teknologi, kemahiran bahasa Arab dan Inggris, serta keterampilan profesional dan kewirausahaan. Semua itu harus ditopang oleh integritas moral.
Wirid menjaga hubungan santri dengan Allah, tirakat melatih kesungguhan dan pengendalian diri, sedangkan tawadhu menjaga ilmu agar tidak melahirkan kesombongan. Dengan bekal tersebut, santri tidak hanya mampu bersaing di dunia kerja, tetapi juga melanjutkan pendidikan dan membangun jejaring keilmuan internasional.
"Kita ingin santri menguasai ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern, mampu berkomunikasi dengan dunia, serta tetap berakar kuat pada tradisi pesantren. Santri harus mampu mendunia tanpa kehilangan jati diri, menguasai teknologi tanpa kehilangan adab, dan meraih kemajuan dunia tanpa melupakan akhirat," ujar Gus Fahrur.
Ikuti Whatsapp Channel Republika