Oleh: Fitriyan Zamzami, Bayu Adji P
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tak ada sekutip juga awan menutupi langit Jakarta pada Rabu (17/6/2026) itu. Pagi menjelang siang, terik matahari sudah mulai membakar. Tapi buat Kardi, kerja harus jalan terus. Yang terhampar di Lenteng Agung, Jakarta Selatan hari itu bisa buat menyambung hidup.
Baca Juga- Mahasiswa Soroti Pelanggaran Eksekusi Lahan di Lenteng Agung Oleh Tentara
- Rumahnya Digusur Tentara, Warga Lenteng Agung Bingung Mau Pindah ke Mana
- Mahasiswa Luka-Luka Kena Pukul Saat Tentara Eksekusi Lahan di Lenteng Agung
Sepanjang mata memandang, persis di tepi jalan besar menuju Depok, reruntuhan rumah-rumah. Tak ada satupun yang berdiri dari seratus lebih yang sebelumnya dibangun di lokasi tersebut.
Kayu-kayu fondasi berserakan di tanah, tembok-tembok roboh dan hancur, perabotan-perabotan rusak. Poster-poster yang sempat menempel di dinding kamar, sepatu dan sandal, pakaian-pakaian robek.
“Iya, seperti habis dibom macam di Gaza, Mas,” kata Kardi kepada Republika saat ditemui di lokasi siang itu. Sekitar enam orang rekan-rekannya sesama pemulung sedang memilah-milah yang bisa dijual kembali. Satu-satu mereka masukkan ke karung, kemudian ditaruh di gerobak.
Tak lama, seorang pria paruh baya bercelana dan kaus loreng hijau tentara datang. “Woi!” ia berteriak memanggil kumpulan pemulung. “Nanti balok-baloknya yang masih bagus dikumpulkan ya. Jangan dibawa,” ujarnya berteriak pada para pemulung.
“Bapak saja yang bilang sama teman-teman saya. Kalau saya nggak didengar,” kata Kardi.
Kondisi pascapembongkaran bangunan oleh TNI di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (17/6/2026). - (Fitriyan Zamzami/Republika)
“Jangan nyolot kamu! Bilang sana sama teman-temannya!”
Pria itu enggan memberikan namanya pada Republika. “Masih aktif di kesatuan,” kata dia. Ia mendaku, rumahnya salah satu yang hancur di antara puing-puing. Sekarang ia harus mengontrak bersama keluarga. “Sudah, tidak usah tanya-tanya lagi, pokoknya tanah ini untuk negara,” kata dia menutup pembicaraan.
Sebanyak 152 rumah di kawasan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, itu sebelumnya menjadi sasaran penggusuran oleh TNI AD sejak Selasa (9/6/2026). Rumah-rumah itu dianggap berdiri di atas lahan milik aset negara.
Salah satu warga yang terdampak penggusuran, Supri (60 tahun), mengaku bahwa proses itu sudah berjalan sejak 2024 ketika warga mendapatkan surat peringatan pertama (SP1) untuk mengosongkan rumah. Surat peringatan itu diberikan hingga tiga kali. Namun, warga tetap bertahan menempati rumah yang mereka huni sejak puluhan tahun terakhir itu lantaran tidak ada kompensasi dari TNI AD.
"Sebetulnya garis besarnya, masyarakat sebetulnya mau pindah jika ada uang tali asih, karena apa? Bangunan ini kan dari tahun 50-an. Otomatis kalau tidak diperbaiki yang menempati, akhirnya harusnya akan roboh kan," kata dia kepada Republika, Kamis (11/6/2026).
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika