JAKARTA -- Para siswa SMA mengambil peran sebagai diplomat berbagai negara untuk membahas persoalan dunia, mulai dari konflik antarnegara, krisis pengungsi, ancaman pandemi, hingga masa depan pendidikan Indonesia. Mereka tidak sekadar menyampaikan pendapat, tetapi juga bernegosiasi, mempertahankan argumen, dan menyusun rancangan resolusi sebagaimana berlangsung dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kegiatan tersebut berlangsung dalam HighScope Model United Nations (HSMUN) ke-18 yang diselenggarakan EcoSocioTech School TB Simatupang, sebelumnya dikenal sebagai Sekolah HighScope Indonesia, pada 23–24 Oktober 2026 di Jakarta.
Baca Juga- Ekonom UI Soroti Lemahnya Penegakan Hukum dan Dampaknya bagi Investor
- Kepala BNPPDT akan Bangun Tugu Titik Nol Kilometer Selatan di Rote Ndao
- Semua Balapan GP Australia Dibatalkan Akibat Cuaca Buruk, Veda Ega Sedih karena Raih Pole Position
Mengangkat tema "Diplomasi dalam Krisis: Mengatasi Isu Global di Tengah Tatanan Internasional yang Terfragmentasi", konferensi ini menjadi ruang bagi para siswa untuk mempraktikkan diplomasi dan mencari titik temu di tengah perbedaan kepentingan.
Dalam simulasi tersebut, setiap peserta bertindak sebagai delegasi yang mewakili negara atau lembaga tertentu. Mereka dituntut memahami posisi yang diwakilinya, menyampaikan argumentasi berdasarkan isu yang dibahas, serta membangun dukungan dari delegasi lain.
Prosesnya dirancang menyerupai mekanisme perundingan internasional. Para delegasi mengikuti pembahasan dalam komite, mengajukan gagasan, berdebat, dan berkolaborasi untuk merumuskan penyelesaian atas persoalan yang menjadi agenda sidang.
Rancangan resolusi yang dihasilkan kemudian dipresentasikan dan dipertahankan sebelum melalui proses pemungutan suara bersama.
Dari Konflik Negara Adidaya hingga Krisis Pengungsi
HSMUN 2026 menghadirkan delapan forum simulasi dengan isu yang berbeda. Dalam United Nations Security Council (UNSC), para siswa membahas efektivitas Dewan Keamanan PBB dalam menyelesaikan krisis yang melibatkan negara-negara adidaya.
Forum ASEAN mengajak delegasi mendiskusikan upaya menjaga stabilitas jalur perdagangan global di tengah konflik regional dan internasional.
Sementara itu, komite United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) membahas tantangan negara-negara penerima pengungsi dalam menghadapi peningkatan arus pengungsian.
Persoalan literasi media di kalangan generasi muda menjadi perhatian dalam forum UNESCO. Para delegasi mendiskusikan tantangan yang muncul akibat perkembangan teknologi informasi dan perubahan cara masyarakat mengakses informasi digital.
Pada forum World Health Organization (WHO), siswa membahas pentingnya kerja sama internasional dalam pencegahan dan penanganan wabah pandemi.
Tidak hanya isu geopolitik dan kesehatan, peserta juga diajak memikirkan persoalan domestik Indonesia.
Melalui simulasi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), para siswa mengevaluasi kebijakan sistem pendidikan nasional dalam kaitannya dengan visi Indonesia Emas 2045.
Konferensi turut menghadirkan United Nations Special Summit (UNSS) dengan pembahasan kreatif bertajuk The Spider Society: Kasus Miles Morales, Mencegah Keruntuhan Multiverse. Forum ini menggunakan skenario fiksi sebagai ruang latihan pengambilan keputusan dan perundingan.
Adapun melalui Press Corps atau UNCA, peserta mempraktikkan kegiatan jurnalistik dalam lingkungan konferensi, termasuk mengikuti dinamika pembahasan di berbagai dewan.
Keragaman forum tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk memahami bahwa diplomasi tidak hanya berkaitan dengan peperangan dan hubungan antarnegara, tetapi juga mencakup pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, perdagangan, serta arus informasi.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara