Nasional

Sudah Belasan Kali Water Bombing, Karhutla di Gunung Lawu Justru Meluas Nyaris 500 Hektare

REPUBLIKA.CO.ID, KARANGANYAR — Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Lawu dengan metode water bombing telah dilaksanakan selama tiga hari. Namun hal itu belum mampu melenyapkan titik...

21 Oktober 2026, pukul 14:12 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, KARANGANYAR — Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Lawu dengan metode water bombing telah dilaksanakan selama tiga hari. Namun hal itu belum mampu melenyapkan titik api. Luas area yang terbakar sudah hampir mencapai 500 hektare.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Bergas Catursasi Penanggungan, mengungkapkan, pengeboman air terhadap titik api di lereng Gunung Lawu masih dilaksanakan pada Rabu (21/10/2026). Berbeda dengan dua hari sebelumnya, pelaksanaan water bombing pada hari ketiga berlangsung lebih intensif, yakni sembilan kali pengeboman.

Baca Juga

“Jadi dalam satu sorti ini ada tiga kali bombing dengan volume 6 ribu liter. Sorti kedua ada enam kali bombing dengan volume 12 ribu liter. Jadi hari ini ada sembilan kali pengeboman,” kata Bergas ketika dihubungi, Rabu (21/10/2026). 

Water bombing mengerahkan dua helikopter TNI, yakni Super Puma dan Mi-17. Pada pelaksanaan hari pertama, water bombing hanya dilaksanakan sebanyak tiga sorti. Sementara hari kedua, pengeboman rencananya dilakukan sebanyak empat sorti, tapi hanya terealisasi dua sorti. 

Bergas menerangkan, water bombing hari kedua, yakni pada Selasa (20/10/2026), hanya bisa dilaksanakan dua sorti karena terkendala cuaca. Selain kondisi awan cukup tebal, visibilitas juga terbatas akibat bubungan asap karhutla.

Meski sudah tiga hari melaksanakan water bombing, Bergas mengatakan karhutka di lereng Gunung Lawu belum padam. Menurut dia, selain cuaca panas, kencangnya embusan angin turut menjadi faktor pemicu meluasnya kebakaran.

“Untuk kemarin, total luas lahan terbakar itu 230 hektare. Hari ini menjadi kurang lebih 490 hektare. Jadi dari total luas lahan RPH Blumbang 1.015 hektare, sudah terbakar 490,” kata Bergas. 

Dia menerangkan, mulanya water bombing hanya hendak dilaksanakan selama tiga hari. “Permintaan awal memang tiga hari. Tapi ini kan dengan melihat perkembangan, tentunya harapannya sih sampai tuntas ya,” ujarnya.

Menurut Bergas, berlanjut atau tidaknya water bombing untuk pemadaman karhutla di Gunung Lawu bergantung pada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hal itu karena BNPB akan selalu melaksanakan rapat teknis pada pagi sebelum pengeboman air dilaksanakan.

Diduga Ulah Manusia

Sebelumnya Bergas menyampaikan bahwa karhutla di lereng Gunung Lawu diduga akibat kelalaian manusia. Dia menyebut, sementara ini, dugaan penyebab kebakaran adalah aktivitas pembuatan arang.

Bergas menerangkan, relawan yang terlibat dalam upaya pemadaman di lereng Gunung Lawu sudah memeriksa bekas titik api. “Teman-teman relawan menemukan titik pembakaran pembuatan arang. Jadi ditemukan pacul dan tempat pembuatan arang yang bocor,” ungkapnya ketika diwawancara, Selasa (20/10/2026).

Dia menambahkan, hal itu mengindikasikan terdapat warga yang terlibat dalam aktivitas pembuatan arang tersebut. “Namun kita belum tahu masyarakatnya siapa nih. Tapi ditemukan ada pacul di situ. Berarti kan ada manusianya nih, dan pembuatan arang ini masih terbakar posisinya,” ucapnya.

Menurut Bergas, temuan tersebut masih akan didalami lagi. Sementara itu Kapolda Jateng Irjen Pol Roy Hardi Siahaan mengungkapkan, pihaknya sudah mulai menyelidiki dugaan penyebab karhutla di lereng Gunung Lawu. “Saat ini Puslabfor sedang mengambil beberapa langkah, antara lain tanah yang ada di sana atau beberapa alang-alang, itu diambil. Tapi masih berproses,” kata Roy ketika diwawancara di Kota Semarang pada Selasa lalu. 

“Kemungkinan, kecurigaan kita kemarin untuk yang di Karanganyar atau Gunung Lawu itu (akibat) human error. Karena di daerah kaki gunung, lereng,” tambah Roy.

Lihat di situs asli

Berita terkait