JAKARTA -- Rutin minum obat dan memeriksa gula darah belum tentu membuat
target pengendalian diabetes tercapai. Pada sebagian penderita diabetes, kadar HbA1c masih tinggi meskipun sudah menjalani pengobatan secara rutin.
Dalam tayangan edukasi 'Topik Diabetes Hari Ini', Diabetologist sekaligus Founder
mGanik, dr Kelvin Candiagomenyampaikan bahwa kondisi ini perlu dievaluasi secara menyeluruh, mulai dari efektivitas terapi hingga pola makan, aktivitas fisik, dan pemantauan gula darah sehari-hari.
Banyak Diabetesi menganggap rutin minum obat dan memeriksa gula darah harian sudah cukup untuk mengendalikan diabetes. Padahal, pemeriksaan gula darah pada waktu tertentu belum dapat menggambarkan rata-rata kadar gula darah dalam jangka panjang. Salah satu pemeriksaan yang dapat membantu mengevaluasi kondisi tersebut adalah HbA1c.
"Untuk melihat lebih presisi apakah pasien itu diabetes atau nggak, bisa menggunakan yang namanya pemeriksaan HbA1c,” ujar dr Kelvin.
HbA1c mencerminkan rata-rata kadar gula darah selama sekitar 2–3 bulan terakhir. Secara umum, nilai HbA1c di bawah 5,7 persen termasuk kategori normal, sedangkan nilai 6,5 persen atau lebih merupakan salah satu kriteria diagnosis diabetes. Bagi penderita diabetes, target HbA1c perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan dievaluasi bersama dokter.
Sayangnya, pengendalian HbA1c masih menjadi tantangan bagi banyak penderita diabetes di Indonesia. Sejumlah studi yang dilakukan di rumah sakit di Indonesia menemukan bahwa hingga 76 persen penderita Diabetes Melitus Tipe 2 memiliki HbA1c yang belum terkontrol.
Menurut dr. Kelvin, kondisi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari terapi yang belum sesuai dengan kondisi pasien hingga pola nutrisi dan monitoring yang belum optimal. Karena itu, pengelolaan diabetes perlu dilakukan secara menyeluruh dengan mengevaluasi efektivitas pengobatan, menjaga pola makan, serta melakukan pemantauan gula darah secara berkala.
Pemeriksaan glukometer tetap penting untuk mengetahui kadar gula darah pada waktu tertentu. Namun, pemeriksaan HbA1c juga diperlukan untuk membantu mengevaluasi pengendalian gula darah dalam jangka panjang dan menentukan apakah target pengobatan sudah tercapai.
"omplikasi dari diabetes itu yang paling menakutkan, makanya semua pasien yang memiliki diabetes perlu menjaga HbA1c-nya di bawah 6,5 persen. Kalau dibiarkan tetap di atas 6,5 persen, biasanya komplikasinya terjadi pada pembuluh darah," kata dr Kelvin.
Meski begitu, pengendalian HbA1c dapat diupayakan melalui pengelolaan diabetes yang konsisten dan menyeluruh. Menurut dr. Kelvin, menjaga pola gula darah tetap terkendali sepanjang hari menjadi salah satu bagian penting dalam mencapai target HbA1c.
Ia menyebut tiga langkah yang dapat diterapkan dalam rutinitas sehari-hari di antaranya mengatur asupan nutrisi harian dengan Metode 4J (Jenis, Jumlah, Jadwal, dan Jurus Masak) atau porsi Piring T (½ serat, ¼ protein, ¼ karbohidrat), aktif bergerak, misalnya jalan kaki atau senam minimal 30 menit per hari dengan menyesuaikan kondisi kesehatan masing-masing, serta ukup istirahat, dengan menjaga kualitas dan durasi tidur malam, umumnya sekitar 7–8 jam bagi orang dewasa.
Ikuti Whatsapp Channel Republika