REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia perlu mengubah pendekatan dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjelang puncak El Nino ekstrem pada akhir 2026. Di tengah ancaman Super El Nino dengan proyeksi anomali suhu permukaan laut Pasifik yang meningkat, upaya penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi semua pihak.
Pakar Kehutanan dan Lingkungan Prof Sudarsono Soedomo, menjelaskan, ancaman El Nino tahun ini berpotensi menghadirkan kondisi kekeringan yang sangat ekstrem dan menyulitkan pengendalian karhutla. Dalam kondisi alam yang sangat ekstrem, sambung dia, karhutla menjadi jauh lebih sulit dicegah dan dikendalikan.
Baca Juga- Mengantar Orangutan Korban Karhutla Kembali ke Habitat Alami
- Kelindan Karhutla dan Israel
- Karhutla di Enam Provinsi Padam, Papua Selatan dan Kaltim Masih Terbakar
"Karena itu, yang perlu kita gelorakan adalah semangat kebersamaan, gotong royong, dan kolaborasi untuk menghadapi bencana ini bersama-sama," ujar Sudarsono dalam siaran pers di Jakarta, Senin (2/11/2026).
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika