Nasional

Tempe Selangkah Lagi Jadi Warisan Budaya Dunia UNESCO

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia tengah menunggu penetapan Budaya Tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO yang ditargetkan berlangsung pada akhir 2026. Momentum tersebut menjadi salah satu fokus dalam peringatan Hari...

17 Juni 2026, pukul 21:00 WIB · dibaca 0 kali

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia tengah menunggu penetapan Budaya Tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO yang ditargetkan berlangsung pada akhir 2026. Momentum tersebut menjadi salah satu fokus dalam peringatan Hari Tempe Nasional (Hartempenas) 2026 yang digelar sepanjang Juni.

Hartempenas 2026 mengusung tema "Tempe Mendunia: Dari Kearifan Lokal Menuju Warisan Budaya Dunia". Kegiatan ini diselenggarakan oleh Forum Tempe Indonesia (FTI), Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (PERGIZI PANGAN) Indonesia, Yayasan Makanan dan Minuman Indonesia (YAMMI), Universitas Sahid, Program Studi Profesi Nutrisionis Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Kementerian Kebudayaan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Baca Juga

Berbagai kegiatan digelar dalam rangkaian peringatan tersebut, mulai dari lomba kreasi batik tempe, lomba video edukasi, kampanye digital nasional, webinar, pameran inovasi tempe, hingga seminar internasional yang menjadi puncak acara pada 17 Juni 2026 di Universitas Sahid Jakarta.

Peringatan tahun ini berlangsung setelah Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kebudayaan secara resmi mengajukan Budaya Tempe ke UNESCO pada 29 Maret 2025 untuk masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.

Menteri Kebudayaan yang diwakili Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D Retnoastuti mengatakan, proses pengajuan yang berjalan sejak awal 2024 diharapkan dapat memperoleh penetapan pada akhir tahun ini.

“Tempe bukan hanya produk pangan, tetapi juga cerminan kearifan lokal Indonesia dalam pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan, sekaligus mengandung nilai gotong royong yang kuat, dan proses fermentasi tempe dipandang sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap lingkungan dengan memanfaatkan bahan baku dan kearifan lokal,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima pada Rabu (17/6/2026)

Ketua Umum Forum Tempe Indonesia Prof Hardinsyah mengatakan, tempe memiliki nilai yang melampaui aspek pangan dan gizi karena juga mencakup sejarah, budaya, teknologi, ekonomi kerakyatan, kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan, hingga diplomasi budaya.

Menurutnya, pengusulan Budaya Tempe ke UNESCO bukan hanya tentang pengakuan terhadap makanan tradisional Indonesia, tetapi juga pengakuan terhadap pengetahuan tradisional, teknologi fermentasi, nilai budaya, dan praktik sosial yang diwariskan lintas generasi.

Dalam puncak peringatan Hartempenas 2026, FTI juga memperkenalkan gagasan pembentukan Global Tempe Forum sebagai wadah kolaborasi internasional untuk pertukaran pengetahuan, riset, inovasi, promosi budaya, dan pengembangan ekosistem tempe berkelanjutan.

“Peran tempe tidak hanya sebagai sumber pangan dan gizi, pewarisan kearifan nilai tradisional Indonesia, tetapi juga memiliki potensi yang sangat besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan menghasilkan devisa melalui ekspor tempe,” kata Hardinsyah.

Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia Prof Ahmad Sulaeman mengatakan, tempe tidak dapat dipandang hanya sebagai produk pangan, tetapi juga sebagai representasi budaya masyarakat Indonesia yang mencakup pengetahuan tradisional, praktik sosial, dan sistem pewarisan budaya.

“Budaya tempe mencerminkan bahwa bangsa Indonesia telah mengenal dan menerapkan teknologi fermentasi (bioteknologi) jauh sebelum bioteknologi modern dikenal dunia,” ujarnya.

Ia menambahkan, PERGIZI PANGAN telah mendorong pengajuan Budaya Tempe ke UNESCO sejak 2014 dan terus mempromosikan tempe sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang serta pangan fungsional yang memiliki manfaat kesehatan.

Saat ini tempe telah diproduksi dan dikonsumsi di berbagai negara di Asia, Eropa, Amerika Utara, hingga Australia. Perkembangan tersebut memperkuat posisi tempe sebagai produk pangan global sekaligus instrumen diplomasi budaya Indonesia.

Hartempenas 2026 dinilai menjadi momentum untuk memperkuat dukungan terhadap pengakuan Budaya Tempe oleh UNESCO sekaligus mendorong pelestarian tradisi yang berkembang di tengah masyarakat. Pengakuan internasional tersebut juga diharapkan dapat memperluas peran tempe sebagai identitas budaya Indonesia yang semakin dikenal di tingkat global.

Lihat di situs asli

Berita terkait