REPUBLIKA.CO.ID,PEMATANGSIANTAR — Penguatan riset dan inovasi nasional dinilai tidak hanya membutuhkan perguruan tinggi yang kuat, laboratorium yang memadai, dan dukungan industri, tetapi juga sumber daya manusia yang dipersiapkan sejak pendidikan dasar dan menengah.
Sekolah juga menjadi tempat awal tumbuhnya rasa ingin tahu, kemampuan berpikir ilmiah, kreativitas, dan problem solving yang kelak menjadi fondasi bagi lahirnya peneliti, insinyur, inovator, dan tenaga profesional. Perspektif tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam Program Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 2026, melalui Pelatihan Guru Berbasis STEM, Artificial Intelligence (AI), dan Robotika yang berlangsung pada 3–5 Agustus 2026 di STAI Samora, Pematangsiantar.
Baca Juga- Alumni UBSI Perkuat Silaturahmi Lewat Padel Day
- Aksi 27 Agustus di DPR, Massa Kompak Minta Koruptor Dihukum Berat
- Saudia-Garuda Sepakat Perkuat Konektivitas Indonesia dan Arab Saudi
Program kolaborasi Universitas Sumatera Utara (USU), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Sebelas Maret (UNS) ini melibatkan 100 guru dari 25 SMA/SMK/MA di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun. Program tersebut dirancang bukan hanya sebagai kegiatan peningkatan kompetensi guru, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun keberlanjutan pembelajaran STEM di sekolah.
Sasaran program mencakup pembentukan sepuluh guru inti, pengembangan modul AI-STEM, implementasi robot mitigasi bencana di sekolah, pembangunan jejaring sekolah digital, serta penyiapan model yang dapat direplikasi hingga tingkat provinsi. Kegiatan dibuka dengan opening remarks Rektor USU Prof. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si., yang disampaikan oleh Prof. Dr. Eng. Himsar Ambarita, S.T., M.T., Wakil Rektor III Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama USU. Turut hadir Imran Simanjuntak, M.A., Ketua STAI Samora sebagai tuan rumah kegiatan.