Nasional

Waketum MUI: Santri Harus Kuasai Ruang Digital, Jangan Jadi Penonton

DEPOK — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Muhammad Cholil Nafis menyerukan umat Islam, khususnya kalangan santri, agar aktif mengisi ruang digital dengan konten positif, edukatif,...

26 Oktober 2026, pukul 00:13 WIB · dibaca 0 kali

DEPOK — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Muhammad Cholil Nafis menyerukan umat Islam, khususnya kalangan santri, agar aktif mengisi ruang digital dengan konten positif, edukatif, dan mencerminkan nilai-nilai Islam. Umat Islam diminta tidak boleh sekadar menjadi penonton di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi.

“Karena kita sudah tidak boleh menghindar dari digital, maka harus dihadapi digital ini. Harus kita isi digital ini. Algoritma harus kita ambil sebaik-baiknya,” ujar Kiai Cholil dalam kegiatan "Peningkatan Literasi Digital Perspektif Islam: Santri Cakap Digital Berakhlak Qurani, Membangun Negeri" di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Sabtu (24/10/2026).

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah itu menilai, perkembangan teknologi informasi merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Ruang digital kini menjadi arena utama penyebaran informasi sehingga perlu dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat.

Menurut dia, konten yang beredar di internet turut membentuk persepsi publik terhadap seseorang. Jejak digital yang tersimpan di mesin pencari maupun media sosial dapat menjadi rujukan masyarakat untuk menilai latar belakang, rekam jejak, hingga karakter seseorang.

Sejumlah santri memberikan hormat saat mengikuti Apel Hari Santri Nasional 2026 di Taman Elektrik, Kota Tangerang, Banten, Kamis (22/10/2026). Ribuan santri dari berbagai pesantren dan perguruan Islam mengikuti apel tersebut untuk memperingati Hari Santri Nasional 2026 yang mengusung tema Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas. - (ANTARA FOTO/ Putra M. Akbar)

Kiai Cholil mencontohkan pengalamannya memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menelusuri latar belakang pejabat maupun tokoh sebelum melakukan pertemuan. Pengalaman tersebut menunjukkan besarnya manfaat teknologi apabila digunakan secara tepat.

“Betapa dahsyatnya dipakai untuk kebaikan. Demikian juga kalau dipakai untuk keburukan, bisa masuk penjara, dan seterusnya,” ucap Ketua Badan Pengurus Harian Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI tersebut.

Karena itu, Kiai Cholil mengingatkan masyarakat, terutama generasi muda Islam dan kalangan santri, agar berhati-hati serta bertanggung jawab dalam membuat dan membagikan konten. Menurut dia, ruang digital dapat menjadi sarana memperluas kebaikan, tetapi juga berpotensi menjadi tempat penyebaran keburukan apabila tidak disertai pengetahuan dan etika.

Dia mengapresiasi inisiatif Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI yang menyelenggarakan program literasi digital bagi santri dan wali santri. Menurut Kiai Cholil, pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara bijak perlu diperkuat, tidak hanya di lingkungan pesantren, tetapi juga di keluarga.

View this post on Instagram

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait