Nasional

Bukan Cuma soal Makanan, Kebiasaan Ini Jadi Pemicu Anak Obesitas di Indonesia

JAKARTA -- Hampir satu dari lima anak di Indonesia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Metaanalisis yang diterbitkan dalam Majalah Kesehatan Indonesia mencatat prevalensi gabungan overweight dan obesitas pada...

26 Oktober 2026, pukul 07:51 WIB · dibaca 0 kali

JAKARTA -- Hampir satu dari lima anak di Indonesia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Metaanalisis yang diterbitkan dalam Majalah Kesehatan Indonesia mencatat prevalensi gabungan overweight dan obesitas pada anak mencapai 18,13 persen.

Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 23,02 persen pada 2050. Menanggapi hal ini, dokter spesialis anak sekaligus dosen di UMY dr Bambang Edi Susyanto mengatakan peningkatan kasus kelebihan berat badan dan obesitas pada anak merupakan fenomena yang terjadi di berbagai negara dalam tiga dekade terakhir, termasuk Indonesia. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terlihat dalam berbagai penelitian, tetapi juga dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari.

Baca Juga

"Overweight dan obesitas juga kami temukan dalam praktik klinis di Yogyakarta. Sering kali kondisi tersebut menyertai penyakit atau masalah kesehatan lain yang menjadi alasan anak datang ke rumah sakit," kata dia dalam keterangan tertulis baru-baru ini.

Bambang menjelaskan kelebihan berat badan dan obesitas pada dasarnya terjadi ketika energi yang masuk ke dalam tubuh tidak seimbang dengan energi yang dikeluarkan. Ketika asupan energi terus-menerus melebihi kebutuhan tubuh, kelebihannya akan disimpan sebagai lemak dan meningkatkan risiko obesitas.

Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai kebiasaan sehari-hari. Kurangnya aktivitas fisik, tingginya durasi penggunaan gawai atau waktu layar (screen time), konsumsi pangan ultraproses yang cenderung tinggi energi, gula, lemak, dan garam, serta pola tidur yang kurang baik merupakan sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.

Kebiasaan menghabiskan banyak waktu di depan layar, misalnya, dapat mengurangi kesempatan anak untuk bergerak aktif. Apabila kondisi tersebut disertai kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kalori dan waktu tidur yang tidak teratur, risiko kelebihan berat badan dapat semakin meningkat.

"Karena itu, penanganan obesitas pada anak tidak cukup hanya berfokus pada angka berat badan. Perubahan gaya hidup secara menyeluruh, mulai dari pola makan, aktivitas fisik, hingga kebiasaan tidur, menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan anak," ujar dr Bambang.

Obesitas pada masa kanak-kanak perlu mendapat perhatian karena dampaknya dapat berlanjut hingga dewasa. Bambang mengatakan anak yang mengalami obesitas memiliki kecenderungan lebih besar untuk tetap mengalami kondisi serupa pada tahap kehidupan berikutnya.

Bayi sedang menimbang berat badan. (ilustrasi) - (www.freepik.com)

Loading...
Lihat di situs asli

Berita terkait