JAKARTA — Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia Dony Oskaria mengatakan Danantara Indonesia tengah melakukan restrukturisasi besar-besaran terhadap 1.074 perusahaan BUMN yang berada di bawah pengelolaannya. Dony mengatakan restrukturisasi dilakukan untuk mengatasi struktur perusahaan yang berlapis, menekan biaya, serta meningkatkan kualitas dan kinerja BUMN.
"Bisakah Anda membayangkan kita memiliki 1.074 perusahaan? Ini faktanya. Kita punya 1.074 perusahaan. Dari 1.074 perusahaan itu, banyak perusahaan yang beroperasi dalam bisnis yang sama," kata Dony dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Baca Juga- Danantara Benahi Layanan Garuda Sebelum Konsolidasi Maskapai BUMN
- Danantara: Laba Bersih BUMN hingga Oktober 2026 Tembus Rp 214,9 Triliun
- Danantara Siap Tambah Investasi Saham, Nilai Prospek BUMN Menarik
Dony menjelaskan banyak perusahaan BUMN saat ini menjalankan bisnis yang sama dan beroperasi dalam struktur berlapis sehingga menimbulkan biaya yang lebih tinggi. Menurut dia, struktur berlapis tersebut membuat sejumlah perusahaan mengambil keuntungan dari perusahaan lain dalam satu rantai bisnis. Dony menilai kondisi itu membuat biaya perusahaan menjadi lebih tinggi dibandingkan kompetitor.
"Setiap perusahaan mengambil keuntungan dari perusahaan lainnya. Jadi, jika dibandingkan dengan kompetitor, biaya kita menjadi 150 persen lebih tinggi. Ini faktanya," tuturnya.
Dony menjelaskan, persoalan serupa ditemukan dalam rantai bisnis Pertamina. Dalam struktur tersebut, perusahaan downstream menjadi pemilik barang dan produk, sementara perusahaan pelayaran membawa produk tersebut dan kemudian menggunakan jasa sektor swasta. Dony mengatakan pola tersebut menciptakan lapisan keuntungan yang tidak efisien di dalam kelompok perusahaan.
"Sembilan puluh tujuh persen dividen hanya datang dari delapan perusahaan. Jadi, dalam pandangan saya, lebih baik saya mengurangi hanya delapan perusahaan, sekarang saya mengurangi 174 perusahaan," sambung Dony.
Dony menegaskan, Danantara Indonesia hanya dapat bertahan apabila mampu memperbaiki pengelolaan perusahaan BUMN. Sebagai sovereign wealth fund yang berbasis pada pengelolaan BUMN, kualitas pengelolaan perusahaan negara menjadi fondasi utama keberlangsungan Danantara.
"Jadi, Danantara Indonesia, pada dasarnya sangat bergantung pada seberapa baik kita mengelola perusahaan milik negara. Jika kita gagal mengelola perusahaan milik negara, maka kita tidak lagi membutuhkan Danantara Indonesia. Jadi, kuncinya adalah bagaimana kita dapat meningkatkan kualitas perusahaan milik negara," katanya.
Untuk menjalankan transformasi tersebut, lanjut Dony, Danantara telah menyusun peta jalan lima tahun. Pada tahun pertama, fokus diarahkan pada konsolidasi dan restrukturisasi perusahaan.
Dony mengatakan Danantara menggunakan tolok ukur global pada setiap industri untuk membandingkan model bisnis, sumber pendapatan, komposisi pendapatan, struktur biaya, hingga margin EBITDA perusahaan BUMN dengan praktik terbaik di tingkat global. Dony mencontohkan transformasi bisnis bandara.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika