Nasional

Environesia: Rehabilitasi Mangrove Tak Cukup dengan Penanaman

JAKARTA -- Rehabilitasi mangrove tidak cukup dilakukan dengan menanam bibit. Pemilihan lokasi, perawatan, dan pemantauan pertumbuhan menjadi faktor penting untuk memastikan mangrove dapat tumbuh dan memberikan manfaat bagi ekosistem...

26 Oktober 2026, pukul 08:59 WIB · dibaca 1 kali

JAKARTA -- Rehabilitasi mangrove tidak cukup dilakukan dengan menanam bibit. Pemilihan lokasi, perawatan, dan pemantauan pertumbuhan menjadi faktor penting untuk memastikan mangrove dapat tumbuh dan memberikan manfaat bagi ekosistem pesisir.

Founder dan CEO Environesia, Saprian, mengatakan, upaya pelestarian lingkungan membutuhkan keterlibatan langsung berbagai pihak, termasuk generasi muda. Kesadaran terhadap persoalan lingkungan perlu diikuti tindakan nyata dan berkelanjutan.

“Persoalan lingkungan yang kita hadapi hari ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan diskusi atau kampanye di media sosial. Kita membutuhkan lebih banyak orang yang mau turun langsung, memahami persoalannya, dan mengambil peran. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa siapa pun, termasuk mahasiswa, bisa menjadi bagian dari solusi,” ujar Saprian, yang akrab disapa Bangsap.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan penanaman mangrove bertajuk Arunika Bahari di kawasan Wana Tirta Mangrove Forests, Pantai Pasir Mendhit, Kalurahan Jangkaran, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Ahad (25/10/2026).

Kegiatan itu melibatkan Environesia, Society of Renewable Energy (SRE) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Mangrovolution. Kolaborasi tersebut mempertemukan praktisi lingkungan, mahasiswa, dan komunitas dalam kegiatan konservasi kawasan pesisir.

Mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Vegetasi ini menjadi habitat berbagai biota, menyerap dan menyimpan karbon, serta membantu mengurangi risiko abrasi.

Namun, penanaman bibit tidak otomatis menjamin keberhasilan rehabilitasi. Tanpa pemilihan lokasi yang sesuai dan pemeliharaan berkelanjutan, upaya penanaman berisiko tidak menghasilkan pemulihan ekosistem yang diharapkan.

Saprian menilai, keberhasilan konservasi perlu dilihat dari keberlanjutan upaya menjaga mangrove setelah kegiatan penanaman selesai.

“Menanam mangrove mungkin terlihat sebagai langkah kecil. Tetapi di balik satu bibit yang kita tanam, ada harapan untuk menjaga ekosistem pesisir, melindungi kehidupan masyarakat, dan mewariskan lingkungan yang lebih baik. Yang terpenting, gerakan ini jangan berhenti setelah acara selesai. Kita perlu memastikan apa yang ditanam hari ini benar-benar tumbuh dan memberi manfaat,” kata dia.

Saprian telah berkecimpung lebih dari satu dekade dalam bidang bisnis hijau. Ia juga membagikan edukasi mengenai isu lingkungan, pembangunan berkelanjutan, serta dampak aktivitas bisnis terhadap masyarakat melalui media sosial dan kanal YouTube Podcast BANGSAP.

Menurut dia, edukasi perlu berjalan beriringan dengan aksi lapangan agar kepedulian terhadap lingkungan dapat diterjemahkan menjadi langkah konkret.

Keterlibatan mahasiswa dan komunitas dalam kegiatan Arunika Bahari diharapkan memperluas pemahaman mengenai konservasi pesisir. Keberlanjutan upaya tersebut akan bergantung pada konsistensi pemeliharaan dan keterlibatan berbagai pihak setelah penanaman dilakukan.

Lihat di situs asli

Berita terkait