Laporan Jurnalis Republika, Lintar Satria, dari Singapore International Energy Week (SIEW) 2026.
SINGAPURA -- Asia menjadi kawasan paling rentan terhadap dampak krisis energi global akibat perang di Timur Tengah. Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengatakan, ketergantungan negara-negara Asia terhadap pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dari kawasan Teluk membuat kawasan ini menghadapi risiko besar ketika jalur perdagangan energi terganggu.
Baca Juga- IEA Ungkap Dunia Ramai-Ramai Bangun PLTN
- PLTN Bisa Jadi Sumber Listrik Rendah Karbon, Ini Tantangannya
- Jejak Nuklir Indonesia dari Pertanian hingga Kesehatan, Kini Menuju Era PLTN
Birol menyebut Asia berada di garis depan krisis energi terbesar yang pernah dihadapi dunia. Menurutnya, gangguan pasokan energi akibat konflik geopolitik berpotensi menimbulkan tekanan berkepanjangan terhadap negara-negara pengimpor energi.
“Ketika melihat situasi saat ini, saya tidak melihat pasar energi akan kembali ke kondisi sebelum perang dalam waktu dekat,” kata Birol di sela Singapore International Energy Week (SIEW) 2026, Senin (26/10/2026).
Kondisi tersebut mendorong IEA meminta negara-negara mengevaluasi kembali strategi ketahanan energi masing-masing. Birol menilai pemerintah perlu mempertimbangkan ulang kemitraan dengan negara pemasok, sumber bahan bakar, serta teknologi energi yang digunakan untuk mengurangi risiko gangguan pasokan.
IEA juga meningkatkan kerja sama dengan pemerintah di kawasan Asia untuk menghadapi tantangan tersebut. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membentuk pusat regional IEA di Singapura dua tahun lalu guna mempererat keterlibatan lembaga tersebut dengan negara-negara Asia.
Birol menyoroti lonjakan harga minyak dunia yang mendekati 120 dolar AS per barel akibat krisis energi. Kenaikan harga produk minyak bahkan lebih tinggi, dengan harga solar mencapai dua kali lipat dibandingkan sebelum perang.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika