REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perubahan iklim yang ditandai dengan cuaca ekstrem dan kemarau panjang akibat fenomena El Nino menjadi tantangan serius bagi sektor hortikultura nasional. Selain menyebabkan keterbatasan pasokan air, suhu panas ekstrem juga memicu peningkatan populasi hama pembawa virus, seperti kutu daun (aphids), thrips, dan kutu kebul (Bemisia tabaci), yang mengancam produktivitas tanaman cabai.
Lonjakan populasi hama tersebut mempercepat penyebaran infeksi virus tanaman, terutama Geminivirus, serta meningkatkan ancaman penyakit layu bakteri di berbagai sentra produksi cabai. Kondisi tanaman yang mengalami stres akibat kekeringan juga menyebabkan daya tahannya melemah sehingga semakin rentan terhadap serangan penyakit.
Baca Juga- Imbas Dukung Palestina, Buku-Buku Karya Sally Rooney Ditarik di Inggris
- Sejumlah Negara Walkout saat Presiden Israel Berpidato
- Tersinggung Disuruh Cari Kerja, Pria di Brebes Bacok Mertua, Istri, dan Anak Bayinya
Dampaknya dirasakan langsung oleh petani. Hasil panen cabai dapat mengalami penurunan hingga lebih dari 50 persen, bahkan tidak sedikit petani yang harus menghadapi gagal panen total akibat kombinasi kekeringan dan serangan penyakit.
Sawal, petani cabai asal Jawa Tengah, mengaku sebagian besar tanaman cabainya mati akibat kemarau panjang. Kondisi tersebut membuat hasil panen yang tersisa tidak mampu memenuhi harapan.
"Akibat tidak ada hujan, kami gagal panen. Ada sebagian kecil tanaman yang bisa dipanen, tetapi itu pun hasilnya tidak bagus," kata Sawal.
Menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi, penerapan teknologi pertanian berbasis pemuliaan tanaman (plant breeding) menjadi salah satu langkah mitigasi strategis. Penggunaan benih varietas unggul yang memiliki ketahanan terhadap penyakit dinilai efektif untuk menekan risiko kerugian petani sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pestisida kimia secara berlebihan.
Salah satu inovasi teknologi benih yang dikembangkan untuk menghadapi tantangan musim kemarau adalah varietas Laba TAVI F1. Varietas cabai keriting hibrida ini dirancang memiliki tingkat ketahanan tinggi terhadap sejumlah penyakit utama yang kerap menyebabkan kegagalan panen, terutama pada musim kering.
Ketahanan tersebut mencakup penyakit layu bakteri yang disebabkan Ralstonia solanacearum, busuk batang atau akar akibat Phytophthora capsici, serta infeksi virus kompleks. Teknologi ketahanan terhadap virus tersebut dikenal melalui TAVI, yakni Tanaman Tahan Virus.
Selain ketahanan terhadap penyakit, Laba TAVI F1 dikembangkan untuk menghasilkan produktivitas tinggi. Varietas ini mampu menghasilkan cabai keriting dengan bobot rata-rata delapan gram per buah dan potensi panen mencapai 18 hingga 23 ton per hektare.
Potensi produktivitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi usaha tani, terutama ketika petani menghadapi tekanan biaya produksi akibat perubahan kondisi cuaca. Ketahanan genetik yang dimiliki varietas ini juga dirancang untuk menjaga pertumbuhan tanaman, pembentukan buah, dan kualitas hasil panen di tengah suhu tinggi serta keterbatasan pasokan air.
General Manager Commercial PT East West Seed Indonesia (EWINDO), Budi Hariyono, mengatakan pengembangan varietas adaptif merupakan bentuk kontribusi riset dan teknologi pertanian dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Inovasi tersebut dihasilkan melalui proses pemuliaan tanaman yang dilakukan secara konsisten dengan mempertimbangkan karakteristik agroklimat lokal di Indonesia.
Menurut Budi, pengembangan varietas unggul difokuskan untuk membantu petani mengatasi ancaman iklim ekstrem yang semakin berdampak terhadap keberlanjutan usaha pertanian. Ketahanan tanaman terhadap penyakit dan kemampuan beradaptasi pada kondisi cuaca kering menjadi perhatian utama dalam kegiatan riset tersebut.
"Varietas Laba TAVI F1 ini merupakan hasil dari proses riset mendalam yang kami dedikasikan sebagai solusi nyata bagi para petani dalam menghadapi tantangan musim kemarau panjang seperti yang terjadi saat ini," kata Budi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 15 Oktober 2026.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika sumber : Antara