Oleh: Entang Sastraatmadja, Anggota Dewan Pakar DPN HKTI
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Per definisi, tengkulak adalah pedagang perantara yang membeli hasil bumi (seperti panen padi, sayuran, atau buah) langsung dari produsen pertama (petani) untuk dijual kembali kepada konsumen akhir, pedagang besar, atau pabrik.
Peran dan fungsi utamanya, pertama sebagai pengepul dan distributor yakni memudahkan distribusi hasil panen dari desa ke kota. Kedua, penyedia modal. Sering kali memberikan pinjaman uang atau sarana produksi di awal musim tanam.
Ketiga, penentu harga. Tengkulak memiliki kuasa menetapkan harga beli yang sering kali lebih rendah daripada harga pasar. Terutama jika petani memiliki keterbatasan akses pasar atau memiliki utang.
Dampak bagi kehidupan petani, dapat dilihat dari dua sisi, yaitu positifnya membantu petani mendapatkan uang tunai secara cepat dan menanggung risiko logistik. Sedangkan sisi negatifnya, dapat memicu monopoli harga dan menjebak petani dalam jerat utang serta keuntungan panen yang tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan.
Sejalan dengan itu, tengkulak sering diartikan sebagai pedagang perantara (yang membeli hasil bumi dan sebagainya dari petani atau pemilik pertama). Tengkulak, biasanya sebagai peraih harga beli yang umumnya lebih rendah daripada harga pasaran.
Kehadiran tengkulak juga dimaksudkan sebagai orang yang bertugas selaku pembeli, pendistributor, sekaligus pedagang hasil pertanian dan hasil bumi lainnya dengan cara datang ke daerah untuk mencari dan mengumpulkan hasil pertanian tersebut.
Selain itu penting dipahami, keterlibatan tengkulak juga bukan hanya terletak sebagai pembeli, juga memiliki peran penting sebagai penyedia modal bagi petani. Bahkan di mata petani, tengkulak dinilai sebagai "dewa penolong" di saat petani sedang kesusahan.
Tidak sedikit petani yang meminta bantuan tengkulak manakala ada keluarganya yang sakit dan memerlukan dana segera. Itu sebabnya, yang namanya tengkulak sering menjadi "sahabat" petani. Salah besar kalau kita "memusuhi" tengkulak.
Terlepas dari beragam sepak terjang tengkulak yang kerap kali "memainkan" harga di tingkat petani, tetapi kita memahami pada saat-saat tertentu keberadaan tengkulak, sangat dibutuhkan para petani. Suasana kebatinan antara petani dan tengkulak terbangun sejak lama dan tercipta hubungan emosional yang saling menguatkan.
Bagi sebagian besar masyarakat perdesaan, kehadiran tengkulak dalam kehidupan kaum tani, sangat memiliki peran cukup strategis, sekalipun pada waktu-waktu tertentu ada perilakunya yang menyebalkan.
Betapa tidak? Saat panen raya misalnya, tengkulak ini sangat doyan menekan harga jual petani sehingga banyak petani dirugikan. Tapi, kita juga tak mungkin memungkiri sikap tengkulak yang membantu petani ketika secara mendadak petani butuh bantuan dana.
Mengapa petani lebih senang berhubungan dengan tengkulak ketimbang pihak lain seperti perbankan arau koperasi? Salah satu alasannya, melalui tengkulak prosedurnya sederhana, cepat dan tidak bertele-tele.
Musim panen raya padi, kini telah usai. Rata-rata petani padi di negara kita, saat panen raya menjual hasil panennya dalam bentuk gabah kering panen (GKP). Jarang yang mengolah terlebih dahulu, untuk dijual dalam bentuk gabah kering giling (GKG) maupun beras.
Pengalaman menunjukkan, selama musim panen, harga gabah dan beras cenderung anjlok. Petani terkadang kecewa dengan sikap pemerintah. Saat harga jatuh dan tidak mampu menutupi biaya produksi yang dikeluarkan petani, anehnya pemerintah hampir tidak pernah hadir di tengah kesusahan petani. Pemerintah pun seperti yang tak berdaya menghadapi pasar yang terjadi.
Baru beberapa waktu lalu, petani padi di Tanah Merdeka menyelesaikan panen raya. Harga gabah benar-benar menguntungkan petani. Dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 6.500 per kg, jelas memberi keuntungan yang wajar bagi petani.
Pertanyaannya, apakah saat panen raya pemerintah mampu menjamin harga gabah tidak bakalan anjlok, sekalipun HPP gabah telah ditetapkan? Atau lagi-lagi pemerintah tak berdaya melawan oknum-oknum yang gandrung memainkan harga gabah dan beras waktu panen raya? Lalu, ke mana kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki untuk melakukan pembelaan dan perlindungan terhadap petani ?
Negara atau pemerintah mestinya hadir di tengah-tengah masalah yang menyangkut nasib dan kehidupan petani. Pemerintah juga paham betul, mengapa petani bahagia dengan terciptanya harga gabah menembus Rp 7.000 per kg.
Dengan demikian, betapa kecewanya petani jika dalam panen raya, pemerintah tidak mampu menjaga dan mempertahankan harga gabah yang membuat petani riang gembira.
Dalam kalimat lain, bisa juga disebutkan, jika pemerintah ingin menolong dan melindungi petani padi agar sedikit demi sedikit terbebas dari suasana hidup miskin, maka waktu panen raya itulah, kehadiran pemerintah sangat dinantikan.
Persoalannya, apakah pemerintah memiliki kemauan dan tindakan politik untuk melaksanakannya atau tidak?
Bila pemerintah tak memiliki kemampuan mengendalikan harga gabah dan beras yang nyata-nyata membuat petani senang dan gembira, mestinya sebagai "penguasa", mampu melahirkan regulasi yang mengokohkan persahabatan petani dengan tengkulak.
Buat aturan yang mampu melahirkan suasana tengkulak mencintai petani dan petani tetap menghormati tengkulak. Persahabatan tengkulak dengan petani, sudah saatnya dikemas dengan baik dan penuh tanggung jawab.
Kesan tengkulak yang seolah-olah hanya mengeruk keuntungan semata, sudah saatnya digeser dengan bahasa lebih menonjolkan kebersamaan. Artinya, tengkulak perlu berbagi keuntungan dengan petani.
Kalau masyarakat Jepang punya "sogo sosha", mestinya bangsa kita mampu menerapkan budaya "sisih asah, silih asih, silih asuh dan silih wawangi".
Hubungan emosi yang telah cukup lama terjalin antara tengkulak/pengepul dengan petani, sebaiknya bukan hanya disemangati nilai sosial, juga dikembangkan ke nilai ekonomis.
Tengkulak, perlu mengajari petani agar mereka mampu tampil sebagai "petani pengusaha". Petani penting dipahamkan bagaimana proses bisnis gabah dan beras yang berkeadilan dilakukan.
Mewujudkan keinginan seperti ini, jelas tidak mudah. Untuk memulainya dibutuhkan kesadaran diri terdalam dari pihak-pihak yang akan melakoninya. Kita percaya, petani dan tengkulak memiliku semangat yang sama.
Petani ingin sejahtera, dan tengkulak pun ingin meraih untung. Persahabatan yang baik dan berkualitas, mestinya mampu menjawab harapan di atas. Mulailah dengan tengkulak mencintai petani.
Ikuti Whatsapp Channel Republika Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.