REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Ketika meninjau sejarah pemikiran sosial dari Samarkand, kita pernah mengatakan bahwa Abu Raihan al-Biruni layak ditempatkan sejajar dengan Ibnu Khaldun.
Kita juga telah menyinggung adanya kedekatan yang mencolok antara metode al-Biruni, yang berupaya memahami masyarakat lain dari dalam kerangka makna mereka sendiri, dan sosiologi interpretatif (verstehende Soziologie) yang dikembangkan Max Weber.
Baca Juga- Bagaimana China Manfaatkan Perang Iran dan Terkurasnya Kekuatan Militer Amerika Serikat?
- Rahasia Mengapa Krisis Air Dijadikan sebagai Salah Satu Tanda Akhir Zaman Dekatnya Kiamat
Namun, kedekatan tersebut tidak kita pandang sebagai hubungan pengaruh langsung, melainkan sebagai kesamaan metodologis yang dicapai oleh dua pemikir yang hidup pada zaman berbeda.
Akan tetapi, artikel yang ditulis sosiolog Turki, Prof Mustafa Orçan, berjudul Nidham Thabaqat 'India Abu Raihan Muhammad bin Ahmad al-Biruni Qabla Max Weber, membawa persoalan ini ke tahap yang lebih jauh.
Orçan membandingkan pandangan al-Biruni dan Weber tentang India, khususnya mengenai sistem kasta dalam masyarakatnya.
Perbandingan tersebut memunculkan sebuah pertanyaan yang mengusik, tetapi tetap perlu diajukan:
Apakah Weber mengambil sebagian gagasannya tentang India dan sistem kasta dari al-Biruni? Jika memang demikian, mengapa ia tidak pernah menyebut nama al-Biruni sekalipun?
Dalam artikelnya dalam Aljazeera, Yasin Aktay, akademisi asal Turki mengatakan berdasarkan informasi yang tersedia saat ini, kita belum dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan tegas, “Ya.”
Orçan pun tidak menyajikan persoalan ini sebagai kasus plagiarisme yang telah terbukti. Namun, kronologi sejarah, berbagai kesamaan pemikiran, dan tidak adanya penyebutan nama al-Biruni membuat pertanyaan tersebut sah untuk diajukan.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika