REPUBLIKA.CO.ID,MADINAH -- Memasuki fase gelombang kedua operasional haji, Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah kini memfokuskan pelayanan pada program tanazul bagi jemaah yang sakit. Tanazul merupakan prosedur pemulangan jamaah haji yang dilakukan tidak bersamaan dengan kelompok terbang (kloter) asalnya, baik dipulangkan lebih awal atau lebih akhir, sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk memberikan perlindungan maksimal kepada jemaah.
Kepala KKHI Madinah, dr Enny Nuryanti, menjelaskan program ini dilakukan dengan sangat selektif untuk memastikan seluruh jamaah dalam kondisi prima sebelum menempuh perjalanan udara yang panjang. "Banyak kita lakukan tanazul akhir karena ini menjadi upaya pemerintah melindungi jemaah. Kami harus pastikan jemaah itu fit to fly atau siap untuk terbang, untuk memastikan mereka selamat hingga sampai di Tanah Air," ujar dr Enny di Madinah.
Baca Juga- Kisah Mutiara dan Agung, Pasangan Haji Muda yang Menemukan Hikmah dalam Kebersamaan
- Sesumbar Pelatih Maroko, Sebut Timnya Punya Semua Modal untuk Juara Dunia
- Kenaikan Harga LNG Perlu Dilihat Objektif, Pemerintah Harus Cari Jalan Tengah bagi Industri
Menurut dr Enny, perjalanan udara selama kurang lebih sembilan jam pada ketinggian di atas 3.000 kaki memiliki risiko tersendiri bagi pasien. "Pesawat juga bukan IGD, jadi harus dipastikan fit to fly. Aman dan selamat untuk terbang. Kadang jemaah sudah rindu dengan keluarga dan ingin segera pulang, tapi jika kondisi belum memungkinkan, maka kita stabilisasi dulu di Arab Saudi sampai benar-benar memenuhi syarat," katanya.
Adapun kriteria fit to fly yang ditetapkan meliputi saturasi oksigen di atas 92 persen, tidak adanya nyeri hebat, serta kemampuan jemaah untuk duduk atau berbaring selama penerbangan. Jika jemaah memerlukan fasilitas khusus seperti oksigen atau tempat tidur, KKHI akan menyiapkannya dengan pengajuan minimal H-7 sebelum keberangkatan.
"Total selama periode gelombang kedua di Madinah, kami telah menangani 51 jemaah, yang terdiri dari 41 jemaah tanazul dan 10 jemaah evakuasi yang tetap terbang bersama kloternya namun kami antar menggunakan ambulans ke bandara," kata dr Enny.
Prosedur tanazul dimulai dari pengajuan oleh Tim Kesehatan Haji (TKH) kloter ke KKHI terkait kondisi jemaah yang sakit. Setelah dievaluasi kebutuhan medisnya, KKHI akan berkoordinasi dengan PPIH di bandara untuk serah terima dokumen medis agar kelanjutan penanganan jemaah tetap terpantau oleh TKH kloter hingga tiba di Indonesia. Rata-rata sejak 16 Juni lalu, terdapat sekitar lima hingga tujuh pasien per hari yang harus diproses kepulangannya melalui mekanisme tanazul.
Menjelang akhir operasional haji pada 30 Juni mendatang, dr Enny memastikan bahwa pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin menuntaskan penanganan jemaah yang sakit. "Kami akan usahakan sampai tanggal itu semua tuntas. Jika setelah tanggal tersebut masih ada jemaah yang belum memungkinkan untuk diterbangkan, maka nantinya penanganan jemaah akan dialihkan dan ditangani langsung oleh Kantor Urusan Haji (KUH)," katanya.
Ikuti Whatsapp Channel Republika