Nasional

Membuka Hambatan Investasi, Belajar dari MoU dengan Negara Mitra

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Pada abad ke-17, kapal-kapal dagang Eropa menempuh perjalanan berbulan-bulan melintasi samudra demi mencapai Nusantara. Mereka datang bukan karena belas kasihan, bukan pula karena persahabatan. Mereka datang karena di kepulauan...

1 Juli 2026, pukul 20:18 WIB · dibaca 0 kali

Oleh: Azis Subekti, pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Pada abad ke-17, kapal-kapal dagang Eropa menempuh perjalanan berbulan-bulan melintasi samudra demi mencapai Nusantara.

Mereka datang bukan karena belas kasihan, bukan pula karena persahabatan. Mereka datang karena di kepulauan ini tersimpan sesuatu yang membuat dunia rela mengambil risiko besar: nilai ekonomi.

Baca Juga

Rempah-rempah Nusantara pernah menjadi komoditas yang membantu menggerakkan perdagangan global. Pada abad berikutnya, kopi, gula, teh, karet, timah, minyak, dan berbagai hasil bumi Hindia Belanda ikut menopang kekuatan ekonomi kolonial.

Dalam bahasa yang paling telanjang, dunia telah lama mengetahui satu hal: Indonesia adalah ruang ekonomi yang bernilai.

Empat abad kemudian, dunia kembali datang.

Bukan lagi dengan armada perang.

Bukan lagi dengan monopoli dagang.

Mereka datang membawa modal, teknologi, investasi, dan nota kesepahaman.

Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Prancis, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Korea Selatan, Australia, Singapura, Rusia, Brasil, India, dan berbagai negara lainnya berlomba memperluas kerja sama dengan Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir saja, berbagai MoU, business deals, joint investment funds, dan komitmen investasi yang diumumkan nilainya mendekati 175 miliar dolar AS. Bahkan angka sesungguhnya kemungkinan lebih besar karena tidak seluruh kesepakatan membuka nilai komersialnya kepada publik.

Nilai tersebut setara sekitar sebelas persen dari Produk Domestik Bruto Indonesia saat ini.

 

Loading... Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Lihat di situs asli

Berita terkait