REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Suahasil Nazara mendorong investasi swasta di sektor kelapa sawit untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat hilirisasi, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas. Investasi juga perlu menjangkau pekebun rakyat agar mereka mendapat akses pembiayaan, teknologi, dan pasar yang lebih luas.
Suahasil mengatakan, pengembangan industri sawit tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi. Investasi perlu mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari perkebunan hingga pengolahan produk turunan yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian.
Baca Juga- Wamenkeu Pastikan tak Ada Kenaikan Harga BBM Subsidi
- Kemenkeu Salurkan Bansos Rp 115,8 Triliun
- Menkeu Suahasil Siapkan Skema Pensiun dan Bansos Langsung ke Rekening
“Pertanyaan pentingnya bukan hanya seberapa besar modal yang dapat kita mobilisasi. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah ke mana modal tersebut mengalir dan apa hasil yang dapat dicapai,” kata Suahasil dalam kegiatan Plantation360: Mobilizing Private Capital for More and Better Jobs di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10/2026).
Menurut dia, kelapa sawit memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia, mulai dari menopang ekonomi perdesaan hingga memasok kebutuhan industri pangan dan energi.
Indonesia memiliki lebih dari 16,8 juta hektare perkebunan kelapa sawit. Sekitar 41 persen di antaranya dikelola pekebun rakyat. Karena itu, peningkatan produktivitas perkebunan yang sudah ada menjadi salah satu prioritas untuk mendongkrak pendapatan pekebun tanpa menambah tekanan terhadap kawasan hutan.
Suahasil memaparkan tiga langkah untuk mendorong investasi yang memberikan manfaat lebih luas bagi industri sawit. Langkah ini diharapkan memperkuat ekosistem sawit dari hulu ke hilir.
Pertama, menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari daya tarik investasi. Pemerintah mendorong hilirisasi melalui pengembangan produk pangan berbasis pertanian, oleokimia, dan biomaterial, serta investasi dalam teknologi pengolahan dan inovasi produk.
Pengembangan energi berbasis sawit juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Sejumlah pengembangan yang disoroti meliputi implementasi B50, green diesel, sustainable aviation fuel (SAF), pemanfaatan minyak jelantah, hingga bensin berbasis bahan baku pertanian.
Kedua, memperkuat peran pemerintah dan lembaga pembiayaan pembangunan untuk membuka peluang investasi yang belum sepenuhnya dapat dikelola melalui mekanisme pasar. Dukungan berupa pembagian risiko, bantuan teknis, dan penyiapan proyek diharapkan dapat menarik modal swasta untuk peremajaan perkebunan rakyat, penguatan ketertelusuran rantai pasok, dan pengembangan industri hilir.
Dalam hal ini, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit berperan mendukung peremajaan perkebunan rakyat, pengembangan keterampilan, penelitian, dan pembangunan infrastruktur. Suahasil menekankan, dukungan tersebut harus diberikan secara transparan, tepat sasaran, dan bertanggung jawab secara fiskal.
Ketiga, menempatkan pekebun rakyat sebagai bagian integral dari model bisnis industri sawit. Pekebun tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga perlu mendapat kesempatan untuk berperan lebih jauh dalam pengembangan industri.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika