REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), Zulfachmi Wahab, mengatakan, terdapat sejumlah puskesmas di Jateng yang tak memiliki dokter umum. Dia mengakui, terjadi penumpukan atau konsentrasi dokter di beberapa daerah, seperti Semarang, Solo, dan Banyumas.
Zulfachmi mengungkapkan, saat ini Jateng memiliki 883 puskesmas dan 370 rumah sakit. "Puskesmas memang ada beberapa yang tidak ada dokternya, tapi masih bisa di-handle oleh wilayah (kabupaten/kota)," ujarnya ketika diwawancara, Kamis (25/6/2026).
Dia belum dapat menyebutkan berapa jumlah puskesmas di Jateng yang tak memiliki dokter. "Tapi itu tentu saja akan mengurangi kualitas layanan," ucapnya.
Menurut dia, jumlah dokter umum saat ini seharusnya mampu mencukupi atau memenuhi kebutuhan puskesmas di Jateng. "Jadi untuk Jawa Tengah, masalahnya sebenarnya bukan dari jumlah, tapi distribusi (dokter). Numpuknya di Semarang, numpuknya di Solo, numpuknya di Banyumas," kata Zulfachmi.
Zulfachmi tak menyanggah bahwa masih ada kesenjangan pendapatan antara dokter yang bekerja di kota besar dan daerah. Hal itu menjadi salah satu faktor mengapa terdapat daerah-daerah yang kekurangan dokter.
"Jadi ibaratnya di mana banyak gula, pasti semutnya banyak. Jadi pasti ada nilai lebih kalau bekerja di kota dibandingkan dengan di daerah," ujar Zulfachmi.
Dia mengatakan, untuk menyiasati kekurangan dokter di daerah-daerah, saat ini terdapat Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI). "Di program itu, kita menempatkan dokter-dokter baru lulus untuk mengisi kekosongan itu. Ini sepenuhnya diatur oleh dinas kesehatan kabupaten/kota," ucapnya.
Menurut Zulfachmi, program PIDI cukup membantu pemerataan jumlah dokter. "Fungsi koordinasi dinas kesehatan provinsi dengan kabupaten/kota itu adalah melakukan evaluasi, monitoring, bagaimana agar supaya semua puskesmas itu terisi. Jangan ada puskesmas A isinya empat dokternya dan ada puskesmas B yang tidak ada dokternya," kata dia.
Ikuti Whatsapp Channel Republika