REPUBLIKA.CO.ID, GRESIK — Menteri Perindustrian Republik Indonesia Muhammad Sarmuji menyebut PT Petrokimia Gresik (Persero), perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero), berpotensi mencetak sejarah sebagai pionir penerapan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikannya saat meninjau langsung perkembangan proyek percontohan teknologi CCU di Gresik, Jawa Timur, Jumat (16/10/2026).
Proyek kolaborasi antara Kementerian Perindustrian, Pupuk Indonesia, Petrokimia Gresik, dan UWin Resources Regeneration Inc. ini menjadi bagian dari upaya pengembangan teknologi pengurangan emisi. Selain itu, inisiatif ini juga membuka peluang peningkatan nilai ekonomi melalui pemanfaatan karbon hasil proses industri.
Baca Juga- Arus Bongkar Muat IPC TPK Naik 8,2 Persen pada Kuartal III 2026
- Kurs Rupiah Tembus Rp18.000 Per Dolar AS, Terpengaruh Pengumuman MSCI yang Dipercepat
- PRUCare 360 Syariah Bantu Putus Rantai Generasi Sandwich
Menteri Perindustrian menyampaikan bahwa proyek percontohan CCU di Petrokimia Gresik merupakan langkah penting dalam pengembangan industri hijau nasional. Menurutnya, pengembangan teknologi ini diharapkan dapat membuka peluang penerapan yang lebih luas pada sektor industri lainnya di masa mendatang.
“Ini akan menjadi sejarah bagi Petrokimia Gresik sebagai industri yang menjadi pionir bagi penerapan Carbon Capture and Utilization. Ini akan kita sebarluaskan karena proyek percontohan ini menghasilkan manfaat yang besar,” ujar Sarmuji.
Teknologi CCU memungkinkan karbon dioksida dari proses industri ditangkap dan dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai ekonomi, salah satunya soda ash atau natrium karbonat. Berdasarkan hasil evaluasi proyek percontohan, teknologi tersebut mencatat efisiensi penangkapan karbon dioksida sebesar 91,48 hingga 97,79 persen. Sementara itu, pengujian kedua pada Mei 2026 menghasilkan soda ash dengan kadar natrium karbonat mencapai 99,12 hingga 99,73 persen, yang berdasarkan evaluasi teknis dinyatakan memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-0598-1989.
Menurut Sarmuji, teknologi CCU memiliki potensi memberikan manfaat ganda bagi industri, yakni mendukung penurunan emisi karbon sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi. Potensi tersebut menjadi peluang bagi industri untuk menjalankan dekarbonisasi tanpa semata-mata memandang penerapan teknologi ramah lingkungan sebagai tambahan biaya. Meski demikian, pengembangan menuju skala industri masih memerlukan evaluasi berkelanjutan.
“Tentu harus kita evaluasi terus-menerus supaya ini bisa berlaku sebagai sebuah skala industri, bukan hanya pilot project. Kita akan punya roadmap ke sana,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Perindustrian atas dukungan dan arahannya dalam pengembangan teknologi CCU. Menurutnya, hasil proyek percontohan di Petrokimia Gresik telah menunjukkan pembuktian konsep yang membuka peluang pengembangan teknologi menuju skala komersial.
“Hari ini kita menyaksikan pembuktian konsep, artinya teknologi baru yang sudah terbukti bisa dimanfaatkan menghasilkan hal yang bermanfaat. Tadi arahan dari Bapak Menteri untuk meningkatkan menjadi komersial. Hitung-hitungan komersialnya nanti kami akan hitung ketika ini meningkat menjadi komersial,” ujar Rahmad.
Loading... Ikuti Whatsapp Channel Republika